FOKSI Selamatkan Macan Tutul Jawa

Rabu, 16 Oktober 2013 | 22.51

(SJO, SUKABUMI) - Seekor macan tutul jawa (Panthera pardus melas) berhasil diselamatkan dari ancaman kematian oleh Tim dari Forum Konservasi Satwaliar Indonesia (FOKSI), Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Bogor, dan warga.

Anggota tim rescue dari TSI, Hendra mengatakan, tim berhasil menangkap hidup-hidup seekor macan tutul jawa di daerah Jampang Kulon, Sukabumi, Jawa Barat.
“Satwa dilindungi itu selanjutnya dibawa untuk dititipkan ke TSI Cisarua, Bogor,” ujar Hendra.

Menurut Hendra, macan tutul tersebut masuk ke kandang perangkap yang disiapkan tim sejak hari Sabtu (12/10) setelah ada permintaan warga lewat surat agar macan tutul ditangkap.
“Sebelum membuat perangkap, pada Jumat (11/10), tim dari TSI Bogor memeriksa jalur lintas macan tutul berdasarkan laporan warga. Dari penelusuran, tim mendapatkan jejak samar kaki depan macan dan menemukan sisa kotorannya,” ucapnya.

Hendra menuturkan, setelah pihaknya yakin jejak tersebut merupakan macan tutul, tim menempatkan dua kandang besi dari TSI, masing-masing sebuah kandang berisi daging ayam mentah dipakai sebagai perangkap dan kandang kedua di sebelahnya yang terkunci diisi seekor kambing hidup sebagai pengumpan.

“Perangkap dipasang di Kampung Ciangsana, Desa Girimukti, Kecamatan Ciemas. Sabtu malam, sekitar pukul 22.00 WIB, diduga macan telah masuk perangkap. “ kata Hendra.
Hendra mengatakan, pada Minggu (13/10) pagi tim dan warga mendatangi perangkap, dan di dalamnya ada macan tutul jantan dewasa, berusia sekitar 8-9 tahun, dengan panjang dari ujung hidung hingga ujung ekor sekitar 170-180 cm.

“Bobotnya diperkirakan 45-50 kilogram, kita bersama warga mengangkut macan dengan berjalan kaki ke kandang transit di rumah kabin yang berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan,” tuturnya.
Hendra menyatakan,  keberhasilan penangkapan hidup-hidup macan tutul itu rencananya akan menjadi model terapan di wilayah tersebut, yang diduga macan tutul masih banyak dan sering turun ke wilayah kampung-kampung Desa Girimukti.

“Sejak 1980 sudah lebih dari 10 macan yang dihabisi dalam perangkap kandang  bamboo,” pungkasnya. (skb)

Kualitas AIr Tujuh Sungai di Jabar Sangat Buruk

Senin, 14 Oktober 2013 | 17.04

(SJO, BANDUNG) - Kualitas air tujuh aliran sungai utama di Provinsi Jawa Barat tergolong mutu D atau kondisi sangat buruk. Tujuh sungai yang kondisi airnya tidak layak konsumsi itu adalah Sungai Cimanuk, Citarum, Cisadena, Kali Bekali, Ciliwung, Citanduy dan Cilamaya.

Buruknya kualitas air ini mengemuka setelah Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi Jawa Barat melakukan survei dan penelitian.

“Kondisi ini disebabkan banyaknya limbah yang masuk sungai dari industri, rumah sakit, peternakan dan pertanian,” kata Kepala BPLH Jabar  Dr. Ir. Anang Sudarna, M.Sc, Ph.D. melalui Kasubag Kehumasan Ahmad Efrizal kepada LICOM saat ditemui di situ Cisanti (hulu Sungai Citarum).

Menurut Afrizal, untuk parameter oksigen terlarut, yang merupakan indicator kesegaran air, dibeberapa lokasi sepanjang aliran sungai Citarum  kadarnya sangat rendah bahkan ada yang mencapai nol. Seperti di wilyah Sapan, Cijeruk, Dayeuhkolot dan Barujul.

Berdasarkan survei dan penelitian BPLHD Jabar, di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, tidak satu lokasipun yang kualitas airnya  memenuhi kreteria mutu air kelas II. Karena dari hasil penelitian banyak terdapat kandungan koli tinja, oksigen terlarut, BOD, COD, dan zat tersuspensi pada semua lokasi.

Permasalahan pencemaran lingkungan ini, bagi BPLD Jabar sebagai leading sector dalam pengelolaan lingkungan memberikan perhatian khusus.

Sedangkan terkait kunjungan Wagub Jabar ke hulu sungai Citarum diharapkan akan memberikan prespektif terhadap kebijakan  serta pengelolaan DAS Citarum menjadi lebih tepat sesuai dengan kondisi actual.

Afrizal meminta, kerjasama terpadu antar OPD dan instasi lainnya serta masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai Citarum dapat bersama-sama dalam mengelolaan DAS Citarum secara berkelanjutan. Sehingga diharapkan dapat menghasilkan lingkungan yang sehat dan berkualitas. (r22)

Wagub : Perlu Duduk Bersama Kembali untuk Pengelolaan Citarum

Minggu, 13 Oktober 2013 | 23.44

(SJO, BANDUNG) -DAS Citarum telah digarap oleh berbagai Instansi terkait sesuai dengan bidang tugas dan garapan masing-masing.  Namun masalah Citarum masih belum tuntas.  Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar pada kunjungan kerjanya berdialog dengan sebagian besar stakeholder dan mengaku memperoleh banyak masukan.

Deddy mengatakan, dalam pengelolaan DAS Citarum perlu duduk bersama kembali diantara Pemerintah Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota dan berbagai stakeholder  terkait, agar dampak program atau kegiatan yang telah dilakukan berbagai pihak terlihat hasilnya secara signifikan. Ini ditegaskan Deddy Mizwar di sela-sela kunjungan kerja dua hari menyusuri DAS Citarum saat ditemui media di Danau Cisanti, Kabupaten Bandung, Minggu (13/9).

Menurut Deddy, lingkungan sudah diperbaiki jauh lebih baik dibandingkan 10 tahun yang lalu. "Berbagai pihak juga sudah bekerja maksimal, namun dampak kerusakan menuju kota belum terlihat secara signifikan oleh karena itu  diperlukan adanya kerja bersama-sama secara opimal," katanya.

Dirinya mengajak berbagai stakeholder duduk bersama hilangkan ego sektoral untuk menyelesaikan masalah lingkungan. "Mulai dari penataan lingkungan, pemberdayaan masyarakat dalam mengelola lingkungan, dan memberikan edukasi kepada masyarakat menjaga lingkungan serta menghilangkan kebiasaan buruk membuang sampah ke sungai," ujar Deddy Mizwar.

Deddy  berharap ada kesadaran masyarakat terhadap lingkungan tanpa mengganggu kegiatan ekonomi,  "kawasan jadi bagus ekonomi masyarakat meningkat."

Berkaitan dengan pengelolaan sampah,  Deddy berpesan agar jangan dulu menjustifikasi masyarakat. Diperlukan evaluasi, kemungkinan ada sarana prasarana yang belum dipenuhi oleh pemerintah seperti Tempat Pembuangan Akhir dan tempat pengolahan sampah. 

Deddy Mizwar yang dalam kunjungan kerjanya  berkemah di lokasi Wanawisata Danau Cisanti, Kertasari Kabupaten Bandung, memanfaatkan untuk banyak berdilog dan menghimpun berbagi masukan.

Selanjutnya Wagub Deddy Mizwar beserta rombongan melaksanakan  restocking/menebar 11.500 bibit ikan mas, nila,tawes di danau Cisanti Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung. Ia juga melakukan penanaman pohon kopi di area kawasan Wanawisata Situ Cisanti.

Pada kesempatan itu Wagub juga meninjau kondisi mata air yang terletak di kawasan Danau Cisanti serta  melakukan kunjungan kerja ke Star Energy Gheothermal Kertamanah Pangalengan.

Hadir pada kegiatan tersebut  Kepala  Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Prov. Jawa Barat Anang Sudarna, Kepala Dinas Kehutanan Prov. Jabar Budi Susatijo, Kepala Dinas Peternakan Prov. Jabar Koesmayadi, Kepala Dinas PSDA Ptov. Jabar Supriyanto, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Prov. Jabar Jaffar,  Kepala Kepala Dinas ESDM Prov Jabar Sumarwan,  Kepala Biro Humas, Protokol dan Umum Setda Jabar R. Ruddy Gandakusumah, Kepala Perum Perhutani Unit III Dadang, unsur pemerintah Kabupaten Bandung dan Kecamatan Pangalengan.(w22)

Puluhan Pabrik di Jabar Buang Limbah ke Citarum

Selasa, 08 Oktober 2013 | 04.02

(SJO, BANDUNG) --  Sebanyak 31 pabrik di Jawa Barat membuang limbah cair ke aliran Sungai Citarum. Dari 31 pabrik tersebut, 11 di antaranya berada di wilayah Kabupaten Bandung. Hasil tersebut berdasarkan audit yang dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Anggota BPK RI bidang audit lingkungan, Ali Masykur Musa, yang melakukan inspeksi mendadak ke Sungai Citarum menyatakan kekecewaannya terhadap kondisi sungai. Ia menilai pemerintah pusat, provinsi, daerah dan DPR RI tidak menunjukkan kinerja yang baik untuk membereskan permasalahan pencemaran sungai.

"Sejak enam bulan lalu kami sudah menyerahkan hasil audit lingkungan. Ada 31 pabrik di Jabar yang melakukan pencemaran lingkungan. Sebanyak 11 di antaranya berasal dari Kabupaten Bandung," kata Ali disela kunjungan ke salah satu pabrik di Majalaya, Minggu (6/10/2013).

Pihaknya sudah memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk segera melakukan tindakan. Dalam peraturan, jika dalam 60 hari tidak ada tindak lanjut maka perusahaan tersebut harus diproses hukum. Dari 31 perusahaan tersebut, delapan pabrik terindikasi pidana lingkungan.  Empat pabrik berada di Kabupaten Bandung serta empat lainnya berada di Purwakarta.

"Tapi saya kecewa. Setelah dicek kembali di lapangan, kondisinya ternyata tetap saja sama dengan enam bulan lalu. Tidak ada perubahan yang terjadi," ujar Ali.

Selain itu ada 23 pabrik lain yang membuang limbah cair melebihi baku mutu lebih dari satu kali. Tujuh pabrik berada di Kabupaten Bandung dan 16 di Kabupaten Bandung Barat. Pabrik tersebut melanggar Undang Undang nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

"Aliran Sungai Citarum ini 25 persen masuk ke tiga waduk yaitu Cirata, Jatiluhur dan Saguling. Air dari ketiga waduk itu 70 persennya digunakan untuk kebutuhan air warga Jakarta. Ini kan bisa menganggu kesehatan semua warga yang dialiri Sungai Citarum," ujarnya.

Selain melakukan pengecekan ke pabrik di Majalaya, Ali juga melakukan peninjauan ke aliran Sungai Citarum di Majalaya. Berdasarkan pantauan terlihat jelas limbah cair berwarna hitam pekat dari salah satu pabrik di Desa Sukamaju, dibuang melalui pipa besar ke aliran Sungai Citarum. Limbah cair tersebut diduga dibuang tanpa melalui proses Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL). (tim)

Wagub Demiz: Tahura Juanda Harus Dipertahankan

Sabtu, 05 Oktober 2013 | 17.29

(SJO, BANDUNG) - Wagub Jabar Deddy Mizwar sangat terkesan terhadap keberadaan Taman Hutan Raya Juanda (TAHURA) yang berada di Kawasan Dago Bandung Utara.

Kita masih memiliki kurang lebih 520 hektar kawasan hutan, dan ini sangat luar biasa. Kawasan ini juga menjadi satu-satunya buffer (benteng) untuk Kawasan Kota Bandung. "Kawasan yang masih memproduksi oksigen bagi warganya", jelas Wagub.

Penjelasan wagub Demiz tersebut, disampaikan saat berkunjung ke Taman Hutan Raya Juanda, Jum'at (4/10) sore.

"Jadi oleh karena itu, kawasan Tahura ini, harus terus dipertahankan", oleh kita semua. Selain dipertahankan, juga harus dikembangkan, jelas Wagub.

Soal pengembangan Hutan Raya juanda ini, wagub Demiz mengungkapkan bahwa, "saat ini sedang ada pembicaraan ke arah itu dengan pihak-pihak terkait".

Wagub Demiz juga menjelaskan mengenai keadaan lingkungan secara umum di Jabar, yang menurutnya harus dibenahi, salah satunya daerah Jabar Selatan. "Daerah tersebut harus dipelihara lingkungannya", dan ditingkatkan fungsi lingkungannya".

Tentu upaya kearah itu harus disertai peran serta masyarakat. Unsur Pemerintah sekedar memberikan fasilitasi dan masyarakat itu sendiri yang harus memiliki kesadaran untuk memelihara lingkungannya. "Karena lingkungan tempat masyarakat berada manfaatnya dinikmati oleh masyarakat itu sendiri.

"Yang jelas, Pemerintah Provinsi Jawa Barat sangat memperhatikan masalah lingkungan di Jawa Barat sebagai salah satu bentuk tanggung jawab terhadap anak cucu kita", demikian Wagub Demiz. (don)

Kekeringan Melanda Kabupaten Bandung

Kamis, 26 September 2013 | 10.42

(SJO, BANDUNG) – Musim kemarau yang berkepanjangan membuat para pelaku pertanian mengalami berbagai kendala. Salah satunya adalah kekeringan yang melanda sebagian besar tanah pesawahan di Bandung dan sekitarnya. Menurut pendataan yang telah dilakukan oleh Dinas Pertanian, Perkebunan dan Perhutanan Kabupaten Bandung, ada empat kecamatan yang berstatus terancam kekeringan, yaitu kecamatan Cimaung, Baleendah, Bojongsoang dan Cileunyi.

Keempat kecamatan tersebut saat ini menjadi daerah pantauan utama bagi para petugas lapangan. Pihak pemerintah daerah sendiri sudah melakukan beberapa persiapan sebelum memasuki musim kemarau, yaitu dengan mengadakan sosialisasi di daerah-daerah yang sebagian pemduduknya bermatapencaharian sebagai petani, terutama petani yang menanam padi.

Berbeda dengan sosialisasi yang dilakukan menjelang kemarau, saat kemarau seperti saat ini pemerintah daerah mulai memberikan bantuan kepada para petani padi yang sawahnya mengalami kekeringan. Penanggulangan ini bisa berupa pompanisasi atau biasa disebut dengan pengeboran tanah untuk mengalirkan air ke sawah yang mengalami kekeringan, atau dengan sistem pompa dangkal dan  gili giring ( digilir dan digiring ).

Menurut Abdul Latif, Kepala UPTD ALSINTAN dan Proteksi Tanaman Kabupaten Bandung, luas area pesawahan yang mengalami kekeringan hingga 31 Agustus kemarin sudah mencapai 509 hektar. Jumlah ini masih bisa berubah sewaktu-waktu dan daerah yang mengalami kekeringanpun tidak tetap setiap tahunnya, “saat ini kami masih terus melakukan penanganan dan peninjauan ke daerah-daerah yang memiliki area pertanian, terutana tanaman padi” ujarnya.

Salah satu petani yang mengalami kekeringan adalah Akim, sawah yang saat ini sedang ia garap di kecamatan cimahi selatan mengalami kekeringan yang mengakibatkan penurunan hasil , “biasanya saya bisa memanen hingga 120 kilogram, namun sekarang hanya mencapai 66 kilogram” ungkap Akim.(w22)

CSR Danamon Anggarkan Bantuan 500 Juta untuk Program Lingkungan di Jabar

Senin, 23 September 2013 | 19.44

(SJO, BANDUNG) - Bagian dari upaya untuk mendukung program pemerintah di bidang lingkungan dan program bulan kepedulian lingkungan hidup (BKL) yang digagas oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Bank Danamon Indonesia Tbk mengalokasikan anggaran sebesar Rp 500 Juta untuk program CSR di bidang lingkungan di Jawa Barat.

Pemimpin Wilayah Bank Danamon Region II Bandung, Arief Setyahadi mengatakan, dana tersebut diperuntukkan antara lain untuk melengkapi fasilitas di Taman Cempaka Bandung serta bank sampah di RW 9 Kompleks Perumahan Bumi Panyileukan Bandung.

"Sesuai program Kementerian Lingkungan Hidup,  untuk tahun ini kami tetap fokus untuk bidang lingkungan dalam penyaluran CSR," ucap Arief, kepada wartawan akhir pecan kemarin.

Menurut Arief, fasilitas yang dilengkapi untuk  di Taman Cempaka Bandung  diantaranya dengan berbagai fasilitas bermain anak-anak sesuai kebutuhan mereka.

“Apa yang kita berikan sesuai kebutuhan dan mengacu kepada persetujuan yang diberikan oleh Dinas Pertamanan Kota Bandung,” ujarnya.

Arief mengatakan, selain melakukan merevitalisasi Taman Cempaka, Bank Danamon juga  berencana melakukan hal serupa di sejumlah taman kota yang ada di Bandung.

“Kita harapkan kedepan taman-taman yang ada di Kota Bandung, tidak hanya menjadi paru-paru kota tapi juga dapat berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat,” katanya.

Arief mengaku, kegiatan CSR bidang lingkungan tidak hanya dilakukan di Kota Bandung, tetapi juga di sejumlah kota lain di Jawa Barat, diantaranya di Kota Cirebon dan Sukabumi.

“Untuk di Cirebon berbentuk penyediaan fasilitas air bersih dan di Sukabumi berupa penghijauan di lahan kritis,” tambah Arief.

Arief menyatakan, keterlibatan Bank Danamon dalam bidang CSR lingkungan merupakan upaya untuk mengubah perilaku dan gaya hidup untuk menyelamatkan lingkungan.

“Alokasi dana CSR setiap tahun selalu meningkat, sejalan dengan meningkatnya laba yang diperoleh setiap tahunnya. Kita targetkan penyaluran dana CSR di Jawa Barat meningkat sekitar 20%,  jika target laba yang meningkat hingga sebesar 20 persen dapat terealisasi,” pungkasnya. (r22)

BKSDA Tindak Perambah Hutan Berdasi

Minggu, 22 September 2013 | 03.44

(SJO, BANDUNG) – Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat Joko Prihatno menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan tindakan tegas terhadap para pengusaha perambah hutan. Hal itu diungkapkan Joko saat melakukan Diskusi Media Tentang Pelestarian Keanekaragaman Hayati Hulu Sungai Citarum, Jum’at (20/9).

“Jika ada perambah hutan berdasi maka kita akan tindak tegas ke jalur hukum. Dan itu sudah kita lakukan, ada satu perushaan yang sudah kita ajukan ke meja hijau” tuturnya.

Tetapi menurut Joko, jika perambah hutan itu adalah masyarakat yang melakukannya karena alasan kebutuhan ekonomi kecil, maka pihaknya akan melakukan pembinaan.

“Kalau pelakunya masyarakat sekitar dengan alasan ekonomi kebutuhan hidup, maka akan kita lakukan pembinaan. Kita akan bina mereka untuk melakukan kegiatan pelestarian hutan, tetapi sekaligus memberikan keuntungan ekonomi buat yang bersangkutan” jelas Joko.

Hal itu dilakukan agar masyarakat tidak lagi merambah hutan, dan berbalik menjadi ikut menjaga pelestarian hutan terutama di wilayah hulu sungai Citarum.(r22)

BKSDA Bina Desa Konservasi untuk Kelestarian Citarum

(SJO, BANDUNG) – Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jabar telah membina kurang lebih 22 Model Desa Konservasi (MDK). Hal itu diutarakan Kepala BKSDA Jabar Joko Prihatno, dalam diskusi media soal pelestarian keanekaragaman hayati hulu Citarum di Bandung, Jum’at (20/9). Menurut Joko, MDK bertujuan agar masyarakat yang tinggal di sekitar hulu Citarum, bisa menjaga pelestarian lingkungannya.

“MDK itu bertujuan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelestarian alam sekitar hulu sungai Citarum. Mereka kita bina dalam pengelolaan pertanian dan peternakan, termasuk juga dalam hal pemeiliharaan pohon penhijauan sebagai daerah tangkapan air. Tujuan akhirnya tentu saja untuk pelstarian Citarum itu sendiri” ujarnya.

Joko juga menuturkan, BKSDA Jabar juga saat ini tengah mengelola 8 kawasan konservasi yang menjadi benteng terakhir bagi keberadaan sungai Citarum.

“Ada delapan kawasan konservasi yaitu Cagar Alam Gunung Tilu, Cagar Alam Gunung Burangrang, Cagar Alam Kawah Kamojang, Gunung Tangkuban Parahu, Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi, Kawah Kamojang, dan Gede Pangarango. Di delapan kawasan ini ada sumber-sumber mata air yang masih bagus yang bermuara ke Citarum” katanya.(r22)

Wagub: Mengelola Lingkungan Bernilai Ibadah

Kamis, 19 September 2013 | 23.45

(SJO, BANDUNG) - Masalah lingkungan hidup merupakan tugas berat tetapi menjadi tantangan yang bernilai ibadah untuk menyelamatkan berjuta mahluk hidup di dunia. Demikian disampaikan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar pada Penutupan Workshop Pembangunan Lingkungan Hidup dan Pemanfaatan DAK Bidang Lingkungan Hidup Tahun Anggaran 2013, di GH. Universal Hotel Jl. Setiabudi 376 Bandung, Kamis (19/9).

Wagub menilai, berbagai isu sentral masalah lingkungan hampir dapat dipastikan akan mewarnai kehidupan manusia. "Kurangnya kesadaran masyarakat dalam menata kelestarian lingkungan lingkungan, masih dianggap penyumbang utama terjadinya krisis lingkungan yang berkepanjangan," tambahnya.

Deddy berharap pelaksanaan kegiatan ini tidak hanya sekedar menghasilkan formulasi ide, konsep, dan rencana aksi pembangunan sektor lingkungan hidup. "Akan tetapi para peserta baik secara individu maupun kelembagaan mampu mendapatkan tambahan semangat dalam upaya pembangunan lingkungan hidup di daerah masing-masing dengan prinsip konservasi lingkungan yang bersinergi dan berkelanjutan," ungkapnya.

Wagub juga mendukung pembentukan forum kooordinasi OPD yang membidangi lingkungan hidup di Jawa Barat. "Diharapkan ini menjadi wadah komunikasi dan koordinasi perumus kebijakan sehingga upaya penyelesesaian persoalan lingkungan hidup dapat diselesaikan secara bertahap, sinergis dan terintegrasi," dukungnya.

Pada kesempatan tersebut Kepala Badan Pelestarian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi Jawa Barat Anang Sudarna dalam laporannya menyampaikan, saat ini lebih dari 45 juta penduduk tinggal di Jawa Barat, hampir 20 % penduduk Indonesia tinggaal di Jawa Barat. Hal tersebut memiliki kaitan dengan keberadaan sumberdaya alam dan lingkungan, sehingga aktivitas yang dilakukan sangat tergantung pada kondisi lingkungan hidup.

Disebutkan Anang, permasalahan lingkungan hidup tidak dapat diselesaikan secara individu akan tetapi membutuhkan keterpaduan dalam penyelesaiannya. "Sumber permasalahan lingkungan memang berada di wilayah kabupaten/kota tertentu. Tetapi tetap dampak permasalahan tersebut tidak jarang melewati kabuaten/kota lain bahkan provinsi lain sehingga dalam penangannya membutuhkan kebersamaan" jelas Anang. (r22)

Jabar Miliki 2 Spesies Penyu Langka

Selasa, 17 September 2013 | 21.31

(SJO, SUKABUMI) – Jawa Barat terutama di pantai Selatannya, memiliki 2 spesies penyu langka di Dunia. Menurut Direktur Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan Kementrian Kelautan dan Prikanan RI, Agus Darmawan, spesies penyu langka yang ada di Jawa Barat itu adalah penyu Hijau dan penyu Lekang, yang berkembang biak secara baik di pantai Ujung Genteng Sukabumi. Hal itu diungkapkan Agus saat melakukan kunjungan bersama Wagub Jabar Deddy Mizwar di kawasan penangkaran penyu di Ujung Genteng Sukabumi, Senin (16/9).

“Indonesia sendiri memiliki empat spesies dari belasan spesies yang ada di Dunia, dan 2 spesies langka diantaranya berkembang biak dengan baik di Ujung Genteng ini, yaitu penyu Hijau dan penyu Lekang” ujar Agus.

Keunikan dari penyu hijau dan lekang itu menurut Agus adalah memiliki daya jelajah yang lebih luas dan jauh dibanding penyu lainnya.

“Penyu ini kalau sudah menetas, nantinya dia kana pergi ke perairan utara Australia  untuk mencari makan, dan jika saatnya bertelur, dia akan kembali lagi ke sini” katanya.

Oleh karena itu menurut Agus, pelestarian penyu bukan hanya konsern dari Indonesia, tetapi sudah mejadi konsern dunia. Pelestairan dan program adopsi penyu yang dilakuan CSR-nya Bio Farma adalah upaya yang sangat bagus untuk pelestarian penyu langka itu.(Beben/skb)

Warga Tolak Pembangunan PLTSa Gedebage

Senin, 09 September 2013 | 03.38

(SJO, BANDUNG) - Sejumlah warga Graha Cempaka Arum menggelar doa bersama dan orasi menolak pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Gedebage yang berada dekat pemukimannya. Warga meminta DPRD dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengkaji kembali rencana pembangunan PLTSa yang akan berdampak buruk terhadap lingkungan.

Doa bersama dan orasi berlangsung di panggung kecil di tengah jalan Ruko Graha Cempaka Arum. Selain warga, hadir pula sejumlah penggiat lingkungan dari Wahana Lingkungan Hidup Jawa Barat (Walhi Jabar), DPKLTS, yang ikut mendukung penolakan pembangunan PLTSa. Orasi dilakukan bergiliran antara warga dan para penggiat lingkungan tersebut.

"Setelah tiga tahun vakum, kita mengawali perjuangan terkait adanya kecenderungan mayoritas anggota DPRD Kota Bandung yang menyetujui pembanguna PLTSa," kata Koordinator Aliansi Rakyat Tolak Pemaksaan, PLTSa di Pemukiman (ART-P2SP) Muhammad Tabroni saat ditemui "PRLM" di lokasi doa bersama, Minggu (8/9/2013).

Dia mengatakan, pemerintah seharusnya melakukan kajian komprehensif terkait nasib 2000 kk yang tinggal di dekat lokasi pembangunan PLTSa. "PLTSa berpotensi menebar bencana lingkungan dan nyawa manusia karena menggunkan incinerator (mesin pembakar sampah skala besar) yang mengganggu kesehatan dan menambah beban polusi Kota Bandung," tutur Tabroni.

Tak hanya itu, dari hasil pembakaran sampah melalui incinerator akan menghasilkan zat racun berupa diozon yang membahayakan sistem syaraf dan menyebabkan kanker bagi masyarakat. Tabroni mencontohkan, keberadaan PLTSa di Cina berdampak pada sebagian warga yang menderita penyakit syaraf otak karena polusi PLTSa. "Selain itu, pada Oktober 2009, puluhan ribu penduduk Pingwang, Provinsi Jiansu, Cina Selatan memprotes keberadaan PLTSa yang dekat pemukiman. Selama masa percobaan, penduduk Pingwang sudah merasakan bau busuk dan asap akibat keberadaan PLTSa," ujar Tabroni.

Hal senada disampaikan, Ramram Mansur Ramdani dari Forum RW Graha Cempaka Arum (GCA). Dia menyatakan, pembangunan PLTSa yang tepat di samping Stadion Gelora Bandung Lautan Api (BLA) akan merusak merusak kenyamanan dan mengancam keselamatan pemain dan bobotoh Persib Bandung. "Dapat dibayangkan bus pemain Persib dan rombongan Bobotoh akan beriringan dengan truk-truk pengakut sampah," ucapnya.

Kondisi tersebut, tutur Ramram, kontradiksi dengan keberadaan stadion yang membutuhkan udara segar. Nanti kebayang sampah, asap serta baunya pembakarannya mengganggu pertandingan.

Menurut dia, kejadian terganggunya pertandingan karena bau sampah pernah terjadi saat pertandingan persahabatan Persebaya dan klub Inggris Queens Park Ranger (QPR) pada 23 Juli 2012. "Bau sampah menyeruak ke seantero stadion karena berada di Kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo Surabaya," katanya.

Dikatakannya, dekata PLTSa Gedebage dengan pemukiman penduduk pun sangat kontras dengan keberadaan PLTSa negara lain. "Di Singapura, PLTSa berada di area industri, pinggir pantai dan jauh dari kota serta berjarak paling dekat 4-5 kilometer dengan pemukiman penduduk sekitar," tutur Ramram.

Di sisi lain, Ramram menambahkan, biaya pembangunan PLTSa Gedebage yang mencapai Rp 562 miliar pada akhirnya hanya membebani APBD. "Beban biaya jasa pengolahan (tipping fee) di luar biaya pengangkutan sampah yang akan dibebankan kepada wara sangat besar mencapai Rp 350.000 perton perhari. Apalagi, kita tahu bahwa perjanjjian berlaku selama 20 tahun dengan anggaran tiping fee senilai Rp 88,2 miliar," tambahnya.

Perang spanduk pro kontra PLTSa Gedebage terlihat dari jalan masuk Cimencrang hingga komplek Graha Cempaka Arum. Spanduk-spanduk bertuliskan "100 persen menolak PLTSa" serta "kami warga Griya Cempaka Arum tetap menolak pembangunann PLTSa, rapatkan barisan, galang kekuatan satuka suara terbentang di dalam area komplek. Sedangkan spanduk yang mendukung PLTSa dipasang di luar komplek Graha Cempaka Arum.(pro/w22)

Data Kerusakan Hutan Jabar Simpang Siur

Jumat, 06 September 2013 | 05.52

(SJO, BANDUNG).- Wakil Gubernur Jawa Barat (Jabar) Deddy Mizwar mengaku data kawasan hutan lindung dan kerusakannya alam Jabar masih simpang siur. Akibatnya, Pemerintah Provinsi Jabar tak bisa melakukan langkah efektif dalam melindungi kelestarian alam yang dimiliki.

Demikian dikatakan Deddy seusai menghadiri gelar perkara publik "Bisnis Tambang Perhutani Berkedok Reklamasi dan Rehabilitasi" yang diselenggarakan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jabar di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Kamis (5/9/2013).

"Data kawasan lindung dan kerusakan hutan berbeda-beda antara dinas kehutanan dan penggiat lingkungan, karena kontraproduktif lebih baik kita kembali data ulang lagi ke nol," ujarnya.

Simpang siurnya data tersebut, kata Deddy, membuat pendekatan dan bagiamana mengatasi persoalan tersebut terkendala. "Harus ada pendataan yang sama sehingga kita bisa tahu dari mana mesti membenahinya," ucapnya.

Dengan adanya kesamaan data, Deddy menyatakan pengawasan terhadap praktik perusakan lingkungan bisa dilakukan.

Dikatakannya, penyebab terjadinya kesimpangsiuran data hutan lindung dan kerusakan lingkungan di Jabar dikarenakan pendekatan teknologi pendataan yang berbeda.

Terkait pengetatan izin penambangan, Deddy mengatakan, pemerintah daerah ikut dalam mengeluarkan perizinan. "Kadang izin dikeluarkan dari kabupaten," tuturnya.

Oleh sebab itu, Deddy menyatakan perlunya permasalahan kerusakan lingkungan Jabar diangkat menjadi isu nasional.

"Banyak isu lingkungan yang harus dibahas dan ditanggulangi bersama," katanya.

Deddy menyatakan akan melakukan pertemuan bersama forum koordinasi pimpinan daerah untuk membahas permasalahan tersebut. Dalam gelar perkara itu, dia menegaskan mendukung penegakan hukum bagi perusahaan pertambangan yang merusak lingkungan di KPH Bogor. (R22/pro)

Proyek Penanganan Sungai Perlu Dievaluasi

Minggu, 28 Juli 2013 | 22.41

(SJO, BANDUNG) – Proyek penanganan sungai di Jawa Barat perlu dievaluasi, karena selama ini tata kelola aliran sungai di Jabar tidak mengalami kemajuan meski triliunan rupiah anggaran digelontorkan. Selain kurang tepat sasaran, proyek penyelamatan sungai juga berpeluang terjadi korupsi serta menyisakan konflik di masyarakat. Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jabar), Dadan Ramdan, Pada peringatan Hari Sungai Nasional di Bandung, Sabtu (28/7/13).

"Beragam program dan proyek penanganan sungai tidak mengalami perbaikan. Padahal sudah triliunan rupiah anggaran yang dikeluarkan pemerintah pusat dan pemda, baik  oleh dinas PSDA (Pengelolaan Sumber Daya Air), BPLHD (Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah) dan Dinas Kehutanan Jabar,” Dadan.

Menurut Dadan Kondisi sungai yang semakin parah sebagian besar imbas dari kesalahan pengelolaan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan. Itu sebabnya pencemaran limbah industri, rumah tangga, dan sarana komersil lainnya, pendangkalan, erosi, penyempitan dan alih fungsi kawasan sekitar sungai terjadi. Bahkan memperburuk ekosistem daerah aliran sungai yang kritis.

Walhi mengimbau masyarakat tetap menjaga kelestarian sungai karena merupakan sumber kehidupan dan titipan alam. Jangan sampai sungai menjadi tempat buangan sampah dan limbah industri. Sebab, penurunan fungsi dan kualitas ekosistem sungai akan menjadi ancaman bencana dan malapetaka bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya.

"Sungai telah memberikan manfaat yang besar pada manusia baik secara ekologi, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat, maka wajib hukumnya dijaga bersama-sama," kata Dadan. (r22)

Gubernur: Tahun 2015 Citarum Harus Bebas dari Limbah

Rabu, 29 Mei 2013 | 23.24

(SEPUTAR JABAR ONLINE, PURWAKARTA) - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menargetkan kondisi sungai Citarum harus bersih dari semua jenis limbah pada tahun 2015.

Janji itu disampaikan Kepala Daerah dalam peringatan Hari Air Se-Dunia ke-21 di waduk Djuanda, Jatiluhur, Purwakarta, Rabu, 29 Mei 2013.

Untuk mewujudkan target tersebut, Gubernur akan menggulirkan program Citarum Bersih (clean Citarum) dengan mengajak  seluruh elemen masyarakat yang berada di sekitar aliran Citarum.

Pemerintah Jawa Barat juga akan melibatkan para pelaku industri dan seluruh stakeholder untuk duduk bersama. "Kemudian, akan digelar komitmen bersama, seluruh yang terlibat harus menandatangani komitmen itu," kata  Heryawan.

Menurut Heryawan, upaya membersihkan Citarum dari semua jenis limbah terinspirasi oleh keberadaan sungai-sungai di Eropa dan Baghdad, Irak, yang kecuali airnya bersih juga sangat terawat.(R22)

Ulin Baksil Gelar Layar Tancap di Hutan Kota Babakan Siliwangi

Selasa, 02 April 2013 | 23.00

(SJO, BANDUNG) – Komunitas Ulin Baksil menggelar layar tancep di Hutan Kota Babakan Siliwangi. Sabtu (30/03/2013) malam. Pergelaran layar tancap yang rutin dilakukan 2 pekan sekali ini merupakan untuk keempat kalinya.

Pertujukan digelar di Sanggar Olah Seni Babakan Siliwangi, dan dihadiri sekitar 20 penonton. Acara diawali penampilan musik akustik oleh Abah Busy Kutil dan Budi, membawakan lagu lagu sunda berirama jazz.
Penayangan layar tancap kali ini memutar film berjudul “BECK”.  Mengisahkan perjalanan sebuah band asal negeri Matahari Terbit, sejak pencarian para personil dengan perjalanan yang berliku dan penuh rintangan sebelum menuju kesuksesan

Film berisi pesan bahwa untuk mencapai kesuksesan harus siap menghadapi resiko dan rintangan. Juga harus sabar Rintangan dan cobaan adalah bumbu dalam mencapai kesuksesan.

Tujuan komunitas Ulin Baksil mengadakan pemutaran layar tancap untuk menyosialisasikan Hutan Kota Babakan SIliwangi agar tidak tampak sep. Hutan Kota Babakan Siliwangi telah ditetapkan oleh PBB dan diresmikan oleh Wakil Presiden Budiono sebagai Hutan Kota di dunia dan sebagai Ruang Hijau Terbuka Publik. Semua orang dapat berkegiatan di Babakan Siliwangi.

Jika pembangunam tempat komersil dilakukan di Hutan Kota Babakan Siliwangi, sama artinya menghlangkan hak warga untuk melakukan kegiatan atau sekedar berjalan santai dengan menghirup udara segar di hutan kota. (sayahandi)

Pentas Oratorium Babakan Siliwangi Berlanjut di Indeschetafel

Kamis, 21 Maret 2013 | 16.43

(SJO, BANDUNG) – Masih dalam rangkaian acara Oratorium Babakan Siliwangi “The Arct Journey Of Silence For Saving Our forest” MetaforaE (Mime Time and Forest action Day). Setelah sukses pergelaran pada 19 Maret, Backsilmove kembali berkolaborasi dengan Indonesian Mime Artist Association dalam acara yang berlangsung di Indeschetafel, Jalan Sumatra No. 19 Bandung. Rabu (20/03/2013) malam.

Pergelaran kali ini dikemas lebih unik, menggabungkan pantomim dan seni tari tradisional Jawa Klasik.
Cerita menggambarkan kehidupan yang “sakit”, bukan hanya orangnya yang sakit, tetapi lebih kompleks, kondisi di sekitar yang juga sakit. Dalam kolaborasi pantomim diperagakan oleh Wanggi dari Indonesian Mime Artist Association, sedangkan tari diperagakan oleh Gatot dan Ratna ( Oneng ) dari STSI.

Menurut Wanggi acara ini digelar dalam rangka memperingati hari hutan sedunia dan hari pantomim sedunia. Acara ini merupakan serangkaian aksi penolakan pembangunan tempat komersil di Hutan Kota Babakan Siliwangi. Acara puncak akan digelar pada hari Jum’at 22 Maret 2013, di Cikapayang. (Sayah Andi)

Backsilmove Gelar Oratorium Babakan Siliwangi

Rabu, 20 Maret 2013 | 08.50

(SJO, BANDUNG) – Dalam  rangka memperingati “World Forest Day” yang jatuh pada 21 Maret,  dan “World Mime Day” pada 22 Maret, komunitas Backsilmove berkolaborasi dengan komunitas Indonesian Mime Artist Association menggelar serangkaian acara bertajuk Oratorium Babakan SiliwangiI “The Arct Journey Of Silence For Saving Our forest” Metafora (Mime Time and Forest action Day) mulai 19 sampai   22 Maret 2013.

Menurut Wirdan, juru kampanye Backsilmove, pembukaan acara ini digelar di Kedai Kopi Mata Angin Jalan Laswi No.19 A Bandung. Acara ini merupakan salah satu bentuk aksi kampanye untuk menyelamatkan Hutan Kota Babakan Siliwangi, dan mengajak semua lapisan masyarakat untuk ikut serta  melindungi dan mempertahankan Hutan Kota Babakan Siliwangi.

Dalam kolaborasi mini festival pada hari pertama ini menampilkan pantomim yang diperagakan oleh Mumu dari Imajimime, diiringi oleh beat box  dari Elan.

Menurut Nadia selaku ketua penyelenggara, pantomim tersebut menceritakan awal dari masyarakat biasa yang selalu menikmati keindahan alam, mendengarkan kicauan burung, rimbunnya pepohonan, memakan buah–buahan dan membuang bijinya ke tanah dan kemudian tumbuh karena kesuburan tanahnya. Tidak lama kemudian datanglah orang–orang yang berkepentingan untuk membangun tempat komersil dengan cara membunuh semua binatang yang ada, menebangi hutan, dan membuang limbah ke sungai. Padahal air sungai tersebut selalu dikonsumsi oleh masyarakat. Akibatnya, meraka  keracunan, setelah  meminum air dari sungai yang sudah tercemar.

Lewat pementasan tersebut hendak disampaikan pesan pentingnya menjaga kelestarian hutan, yang didalamnya terdapat berbagai macam kehidupan. Kalau bukan kita yang menjaganya, siapa lagi; sebab kita semua butuh alam, dan alam pun membutuhkan kita untuk menjaga dan melestarikannya. (Sayah Andi)

Para Seniman "Ngalokat Hahalang" Babakan Siliwangi

Jumat, 15 Maret 2013 | 05.14

(SEPUTAR JABAR ONLINE, BANDUNG) - Dalam rangka mempertahankan babakan siliwangi sebagai hutan kota di kota bandung, para seniman dan budayawan kota bandung menggelar acara “Ngalokat Hahalang Babakan Siliwangi”, Rabu (13/03/13) siang.

Acara bermaksud membuang “Geugeuleuh, keukeumeuh, ngabersihan nu bereum”, lewat  kolaborasi ritual Ngalokat Rupa, Musik, Tari yang digarap bersama-sama dalang Opik Sunandar, Alpiyanto, Dodi Satia Eka, Arab Yudi, Abah Nanu, Tisna Sanjaya, Isa Perkasa, dan para seniman lainnya.

Ritual ditandai mandi kembang (nipas/siram moyang), yaitu seseorang yang dimandikan oleh dukun dengan bunga tujuh macam. Bunga tujuh macam merupakan lambang dari tujuh sifat ma’ani dari pada Allah : Hidup, Kekuatan, Penglihatan, Pendengaran, Perkataan, Perasaan, dan kemauan. Tujuan dari mandi tersebut, agar budi pekerti manusia menjadi harum, menyenangkan bagi orang lain. Ritual   mandi tersebut diharapkan dapat menolak segala macam mara bahaya.

Penyelenggara sengaja menggelar acara pada tanggal 13. Banyak orang mengangap 13 sebagai angka sial, tapi menurut Abah Nanu merupakan tanggal yang bagus untuk melakukan acara ruwatan. Dalam acara ini pun terdapat beberapa simbol burung, kupu-kupu, segitiga simbol dari gunung dan hutan yang melambangkan kehidupan.

Acara ini bermaksud mengajak pemerintah agar menjaga dan mempertahankan kelestarian alam yang ada di kota Bandung. Juga untuk mengingatkan kepada pemerintahan agar mengutamakan kepentingan masyarakat, bukan mementingkan ekonomi saja. (Sayah Andi)

Backsilmove Tolak Pembangunan Tempat Komersial di Babakan Siliwangi

Sabtu, 09 Maret 2013 | 17.56

(SEPUTAR JABAR ONLINE, BANDUNG) - Dalam rangka penyelamatan Hutan Kota Babakan Siliwangi, komunitas “Back to Babakan Siliwangi Movement” atau “Backsilmove” menolak pembangunan tempat komersial di hutan kota babakan siliwangi. Mereka menyampaikan aspirasi tersebut seraya Long March, Sabtu ( 09/03/13 ) pagi.

Aksi diikuti sekitar 40 orang dari berbagai elemen masyarakat. Long March dimulai dari hutan kota Babakan Siliwangi menuju Gedung Sate. Para pengunjuk rasa  membawa bola dunia besar bertuliskan pertanyaan: “Mau dibawa kemana Hutan Kota Babakan Siliwangi ini?”.

Hutan kota Babakan Siliwangi telah diakui oleh PBB dan diresmikan  oleh Wakil Presiden Budiono pada tahun 2011 sebagai Hutan Kota.

Menurut Canny selaku koordinator Grass Root Backsilmove, aksi ini untuk mempertanyakan kepada pemerintah, terkait kabar  bahwa di Babakan Siliwangi akan dibangun tempat komersil. Kalau benar, harus jelas AMDAL nya, dan dipertimbangkan akibatnya. “Kami pertanyakan dasar pertimbangan pemerintah mengijinkan pembangunan yang bersifat komersil di hutan kota babakan siliwangi,” katanya.

Para pengunjuk rasa menginginkan agar pemerintah lebih tegas dalam penataan dan pengelolaan Ruang Terbuka Hijau ( RTH ). Apabila pembangunan tempat komersil di hutan kota babakan siliwangi itu terjadi, maka akan mengurangi Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung.

Selain melakukan Long March, komunitas Backsilmove juga berencana  menggelar berbagai kegiatan di hutan kota babakan siliwangi. ( Sayah Andi )
Diberdayakan oleh Blogger.