Netty Heryawan Ajak Kandidat Kampanye Edukatif

Selasa, 19 Februari 2013 | 00.43

(SEPUTAR JABAR COM, SUBANG) - Masa kampanye merupakan waktu terbaik dan legal bagi para kandidat cagub-cawagub untuk menarik massa. Pada masa ini, kandidat berupaya menampilkan sisi positif mereka. Malah ada juga yang melakukan cara tak terpuji, yaitu menjelek-jelekkan kompetitornya. Namun cara kedua ini tidak dipilih pasangan cagub-cawagub nomor empat, Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar, beserta tim suksesnya.

"Kampanye yang kami lakukan adalah kampanye edukatif. Kami bukan hanya berupaya menarik massa atau mendulang suara, tapi kami juga mencoba menanamkan nilai pembelajaran bagi masyarakat," tutur Netty Heryawan, saat bersilaturahmi dengan tokoh, pengusaha, dan warga Subang (18/2).

Netty menuturkan, kandidat tidak boleh melihat masyarakat hanya sebagai kantong suara, yang didekati hanya menjelang pemilihan umum (pemilu). Semestinya, kandidat menyelipkan pesan lain di luar pesan untuk memilih dirinya.

"Pemilu bisa disebut budaya, karena terjadi rutin, minimal lima tahun sekali. Maka, rakyat harus diberi pembelajaran politik mengenai hak dan kewajiban mereka dalam memilih pemimpin," ujar istri Ahmad Heryawan, sekaligus juru kampanye pasangan nomor empat ini.

Selain itu, Netty mengajak masyarakat untuk berpikiran terbuka, dalam menyikapi upaya kampanye hitam (black campaign) atas pasangan nomor empat. Masyarakat dihimbau tidak menelan mentah-mentah selebaran atau isu negatif tentang Kang Aher-Deddy Mizwar.

"Meski ada pihak yang melakukan black campaign pada Kang Aher, kami tidak terhasut untuk melakukan hal yang sama, karena hal itu hanya dilakukan orang-orang berpikiran sempit," jelas Netty.

"Malah, kami melakukan kampanye edukatif kepada masyarakat. Kami tidak melihat warga sebagai kantong suara belaka, tapi mereka sebagai salah satu pilar pembangunan. Menang atau kalah, mereka harus cerdas. Karena itu, saya selalu menekankan nilai ketahanan keluarga tiap datang ke daerah," ungkap Netty menambahkan.

Tiap datang ke daerah, salah satu pesan yang selalu Netty sampaikan adalah urgensi ketahanan keluarga. Tujuannya, Netty ingin masyarakat paham bahwa keberhasilan pembangunan berawal dari ketahanan keluarga. Inilah perbedaan kampanye Netty dengan jurkam kandidat lain, yang cuma mengajak warga memilih kandidat yang diusungnya. Selalu ada added value (nilai tambah) dalam kampanye Netty.

Meski ada black campaign terhadap Kang Aher, Netty tetap optimis menang. Alasannya, "Masyarakat saat ini sudah cerdas. Mereka sudah bisa melihat, mana orang yang bekerja nyata meski tidak banyak kata, mana yang hanya bisa menjelek-jelekkan orang lain," pungkas Netty. (don)

Netty Heryawan Lantunkan "Emut Bae" Diiringi Band Tuna Netra

Minggu, 17 Februari 2013 | 14.32

(SEPUTARJABAR COM, TASIKMALAYA) - Para pedagang dan pembeli di Pasar Pancasila pasti tidak menyangka, hari Minggu (17/2) transaksi jual-beli mereka akan berlangsung luar biasa. Sejak pagi, di depan pasar telah berdiri panggung berukuran 2x3 meter, lengkap dengan sound system-nya. Sekelompok orang yang tergabung dalam Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) tampak menghibur warga sekitar pasar dengan lantunan lagu. Tapi sebenarnya, bintang utama panggung bukanlah mereka. Sang bintang adalah Netty Prasetiyani Heryawan, istri kandidat gubernur petahana, Ahmad Heryawan.

Rupanya, Netty mengisi kampanye hari ke-11 ini dengan berorasi di depan warga sekitar pasar. Istimewanya, hari ini Netty bukan hanya berorasi kampanye biasa, tapi juga menyumbangkan lagu yang berjudul 'Emut Bae', lagu Sunda yang dipopulerkan Nining Meida.

"Lagu ini adalah hadiah dari saya untuk Bapak-Ibu semua, karena kalau saya memberi hadiah uang, bisa ditangkap Panwaslu," ujar Netty, sembari menegaskan kepada warga bahwa kampanye pasangan nomor empat adalah kampanye edukatif, anti politik uang.

Melalui lagu 'Emut Bae', Netty mengajak warga untuk mengingat Kang Aher. Sudah sewajarnya jika warga 'emut bae' atau ingat terus kepada cagub petahana ini. Di bawah kepemimpinannya, Kang Aher berhasil mendirikan fondasi bangunan Jawa Barat sejahtera. Di antaranya, Kang Aher telah mendirikan 18 ribu ruang kelas baru, sehingga angka putus sekolah berkurang drastis. Maka, menurut Netty, sudah seharusnya pembangunan fondasi itu dilanjutkan.

Sebelum menghibur warga dengan 'Emut Bae', terlebih dahulu Netty menyapa para pedagang dan pembeli di Pasar Pancasila. Di sini, Netty disambut dengan sangat antusias. Para pedagang berebut mempersilakan Netty masuk ke lapak mereka, juga mendoakan Kang Aher-Deddy Mizwar menang pada pilgub Jawa Barat ini. (rls)

Netty Heryawan Ajak Tim Penggerak PKK Ciptakan Terobosan

Kamis, 31 Januari 2013 | 21.42


(SEPUTAR JABAR COM, TASIKMALAYA)—Tantangan pembangunan di era global semakin beragam. Oleh karena itu, semua unsur masyarakat harus mampu menyusun strategi kreatif dan inovatif dalam menghadapi tantangan ini. Hal yang sama berlaku pada Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK).

“Kalau ada program yang bagus, maka harus dipertahankan. Tapi jika ada program yang sudah tidak sesuai atau harus dievaluasi, maka tidak apa-apa diimprovisasi demi meningkatkan kualitas PKK,” papar Ketua TP PKK Jawa Barat, Netty Prasetiyani Heryawan, di Aula Balai Kota Tasikmalaya (31/1).

Pada acara “Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemahaman 10 Program PKK” ini, Netty mengajak para TP PKK Kota Tasikmalaya membuat program-program yang bisa menciptakan terobosan. Caranya, TP PKK harus menjadikan 10 Program PKK sebagai guide (pemandu). Keempat kelompok kerja (pokja) dalam PKK harus mampu menelurkan program yang bisa membantu masyarakat meningkatkan kualitasnya.

Namun, Netty mengingatkan, PKK bukan lembaga tersendiri, bukan super body. Tidak bisa bekerja sendiri. Maka, PKK harus bekerja sama dengan Organisasi Pemberdayaan Daerah (OPD). OPD merupakan gabungan instansi pemerintah yang mengurus masyarakat, seperti Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, BPMPD, dan BP3APKKB.

Agar program ini berhasil, Netty berharap kedua pihak saling melengkapi. Saat PKK bergerak di ruang promotif dan preventif, OPD membantu dalam tataran kuratif dan rehabilitatif. Namun sebelum itu, Netty mengingatkan kembali tugas masing-masing pokja.

Untuk Pokja I yang berfokus pada penghayatan nilai Pancasila dan gotong-royong, Netty menghimbau bidang ini untuk merumuskan nilai-nilai Pancasila yang beririsan dengan ketahanan keluarga. Selanjutnya, rumusan formula ini disampaikan ke masyarakat.

“Frame-kan kepada masyarakat bahwa bangunan keluarga itu harus utuh di dunia dan akhirat,” tambah Netty.

Untuk Pokja II yang mengurus koperasi dan pendidikan anak usia dini (PAUD), Netty menghimbau bidang ini untuk membuat sosialisasi program PAUD yang utuh. Menurut Netty, hakikat PAUD bukan pendirian/pelembagaan sekolah, tapi pembinaan yang harus diberikan pada anak usia 0-5 tahun dengan memberikan stimulus kepada anak.

“Sejatinya PAUD itu ada dalam keluarga. PAUD ini disebut PAUD informal, sedangkan PAUD-PAUD yang kini menjamur di sebut PAUD formal,” terang Netty.

Tugas kedua untuk bidang ini adalah mengadakan pelatihan-pelatihan yang bisa meningkatkan kemandirian masyarakat, terutama ibu rumah tangga. Untuk tugas yang satu ini, Kepala BP3APKKB Neni Kencanawati menambahkan, “Sejak 2006, BP3APKKB bekerja sama dengan PKK membuat program ‘Perempuan Kepala Keluarga’ (PEKA). Melalui program ini, kami mengadakan pelatihan wirausaha kepada ibu rumah tangga, juga memberikan modal kepada mereka.” Tujuannya, menurut Neni, agar kaum ibu mandiri dan tidak tergantung kepada suami secara materi.

Adapun Pokja III yang mengurus sandang pangan dan tata laksana rumah tangga, Netty berpesan tim ini menanamkan wacana ketahanan pangan. Tim ini harus bisa mendorong masyarakat untuk menggali kreativitas, sehingga tidak bergantung pada makanan pokok yang itu-itu saja.

“Isu pangan adalah isu krusial. Tingkat konsumsi beras Indonesia merupakan tertinggi di dunia. Tiap hari, butuh sekitar 35 ribu hektar panen untuk memberi makan rakyat Jawa Barat” ungkap Netty.

Untuk itu, Netty mengingatkan kembali program “Poe Rebo Ulah Ngejo”. Program ini mengajak masyarakat untuk tidak mengonsumsi nasi tiap Rabu, dan menggantinya dengan bahan baku lain yang tetap kaya nutrisi. Netty berharap, masyarakat yang mengikuti program ini bisa mengurangi ketergantungan kepada beras, sehingga bisa mengurangi ketergantungan bangsa ini pada impor luar negeri.

Terakhir, Netty mengingatkan Pokja IV yang berfokus pada kesehatan, untuk menyukseskan program revitalisasi Posyandu. Program ini bertujuan memunculkan kemandirian masyarakat untuk membangun kesehatan keluarganya.

“Tahun kemarin, tiap Posyandu mendapat bantuan Rp 800 ribu per tahun. Alhamdulillah tahun ini naik menjadi Rp 1 juta. Sehingga bantuan yang telah diberikan Pemprov Jabar kepada Posyandu sebesar Rp 833 juta,” terang Netty. Urgensi program ini, menurut Netty, karena Posyandu merupakan center of excellence. Bukan hanya kesehatan yang bisa didapatkan di Posyandu, tapi juga wawasan untuk meningkatkan kualitas diri.

Dalam kesempatan yang sama, Walikota Tasikmalaya Budi Budiman memerintahkan seluruh OPD untuk lebih meningkatkan kerjasama dengan PKK, sehingga mempercepat pembangunan di kota ini. Di lain pihak, Budi berharap jajaran pengurus PKK lebih pro aktif dengan berbagai permasalahan di masyarakat. (red01)

Netty Heryawan: Perempuan Harus Berperan Aktif dalam Politik

Rabu, 30 Januari 2013 | 19.33

Netty Heryawan bersama politisi Tjetje Padmadinata dalam suatu  Diskus  Politik di Bandung

(SEPUTARJABAR.COM, BANDUNG) Netty Prasetiyani Heryawan sepakat bahwa perempuan harus berperan aktif dalam politik. Setiap kebijakan politik yang menyangkut perempuan, harus diputuskan oleh perempuan juga. Alasannya, banyak hal yang menyangkut perempuan hanya dipahami oleh sesama perempuan.

“Soekarno sendiri sudah menyadari bahwa perempuan adalah subjek politik. Politik perlu peran dan keterlibatan perempuan, agar bisa ikut bersikap dan menentukan akses dan kontrol terhadap keputusan politik itu sendiri,” jelas istri Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan ini dalam acara Diskusi Publik Kecerdasan Berpolitik Perempuan, di Graha Kompas (30/1).

Untuk terjun dalam ranah politik, perempuan membutuhkan supporting system. Menurut Netty, keluarga harus legowo jika ibu, istri, atau anak perempuannya dibutuhkan di luar rumah. Untuk itu, perlu komunikasi dialogis agar semua pihak paham.

Tentunya, perempuan tidak bisa terjun ke politik tanpa persiapan matang. Selain dukungan keluarga, menurut Netty, perempuan harus membekali  diri dengan peningkatan kapasitas diri, pendidikan politik dan sipil, serta melakukan perluasan jaringan.

Dalam masyarakat Indonesia, ada stigma dunia politik itu kejam, kotor, dan penuh intrik. Bahkan, dalam benak perempuan sendiri masih ada persepsi bahwa politik bukan dunia perempuan. Padahal di negara-negara Skandinavia, sudah banyak perempuan yang duduk di parlemen, tanpa harus dipolakan 30 persen seperti di Indonesia.

“Perempuan itu harus cerdas berpolitik, lembut berbudaya, juga luas dalam bergaul (jejaring). (Jika hal itu dilakukan) Insya Allah Indonesia akan dikuasai kaum perempuan,” tambah Tokoh Sunda Tjetje Hidayat Padmadinata.

Adanya stigma ‘politik itu kotor’ di masyarakat, tidak lepas dari faktor budaya yang menggambarkan posisi perempuan di bawah laki-laki. Di samping itu, faktor didikan keluarga juga memengaruhi minimnya keterlibatan perempuan dalam politik.

“Banyak orangtua menolak saat anak (perempuan)-nya ‘masuk’ ke ranah politik. Perempuan feminin, dan laki-laki maskulin, karena pengaruh orangtua. Anak perempuan dikasih rok, laki-laki dikasih pistol-pistolan. Harusnya mesti dicoba, bagaimana jika dididik sebaliknya?” tanya Bucky Wikagoe, budayawan dan peneliti kajian wanita dari Unpad.

Menurut Bucky, seharusnya orangtua memberi peluang yang sama saat anak perempuannya memilih dunia politik. “Perempuan harus mengeksplor diri sehingga dia bisa meningkatkan knowledge di ranah politik. Juga, harus disertai dengan komitmen yang kuat. Itulah kunci dia memiliki achievement (pencapaian) di ranah politik,” tambah Bucky.

Pentingnya dukungan keluarga juga diakui Bucky. Menurut Bucky ketika perempuan ingin ‘masuk’ ke ranah politik, tidak perlu ada dikotomi.“Perempuan yang terjun ke politik bisa diurut dari orangtuanya. Biasanya orangtuanya aktivis politik. Atau jika bukan orangtua, dia punya role model seorang politisi. Misalnya teman, guru, atau suaminya,” papar Bucky. (red)

Kedubes AS Nobatkan Netty Heryawan Sebagaj Local Hero

Selasa, 29 Januari 2013 | 23.01

(SEPUTAR JABAR COM, JAKARTA) -- Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat (AS) di Jakarta menobatkan Netty Heryawan sebagai Local Hero yang memerangi praktik perdangan manusia (human trafficking). Netty menyisihkan 4 nominator lainnya.

"Selamat kepada ibu Netty Prasetiyani Heryawan! Berdasarkan voting, dialah pemenang Kompetisi Local Heroes pilihan fans FB Kedubes AS Jakarta," tulis Kedubes AS dalam halaman facebook-nya.

Penetapan Local Hero itu berdasarkan voting yang digelar Kedubes AS dari tanggal 25 Januari 2013 hingga Senin 27 Januari 2013. Netty Heryawan mendapatkan 1.942 suara. Sedangkan empat nominator lainnya: Rahayu Saraswati Djojohadikusumo 1.390 suara, Sofiar Fauzi 1.136, Memey 492, dan Hetty Antje Geru 484 suara.


"Netty Heryawan adalah istri Gubernur Jawa Barat namun dia sangat peduli dengan isu perdagangan manusia. Ibu Netty membentuk program Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) di tingkat provinsi sampai tingkat kabupaten yang menjadi acuan untuk negara. Melalui program-program P2TP2A seluruh Jawa Barat, ratusan korban perdagangan manusia sudah dibantu dan sebagai hasil dari program pencegahan banyak warga Indonesia dilindungi," tulis kedubes AS.

Satu yang berkesan bagi kedubes AS adalah Netty tak canggung menjemput langsung para korban perdagangan manusia. "Dia juga ikut menjemput korban perdagangan manusia dari Batam," tulis Kedubes AS. Netty memang pernah menjemput langsung 14 anak-anak di bawah umur asal Jawa Barat, yang menjadi korban perdagangan manusia di Batam

Sebagai ketua P2TP2A, Netty sangat concern pada kondisi perempuan dan anak di Jawa Barat. Salah satu misi utama Netty adalah memberantas human trafficking (perdagangan manusia). Misi utama ini Netty tetapkan karena angka human trafficking di provinsi ini masih tinggi. Pada Januari-Oktober 2012 saja, tercatat 47 kasus dengan korban mencapai 56 orang.

Bagi Netty penobatan sebagi localhero itu merupakan cambuk bagianya agar lebih giat lagi memerangi perdagangan manusia. "Terimakasih atas apresiasinya, terimakasih kepada yang telah memberikan suara. Ini adalah pendorong yang menyemangati saya untuk terus berjuang memerangi human trafficking," ujarnya.

Netty juga berharap agar berbagai pihak bahu-membahu turut aktif dalam memerangi perdagangan manusia."Praktik Human Trafficking adalah potret perbudakan modern. Itu merupakan kejahatan kemanusiaan yang harus diberantas mulai dari hulu sampai hilir. Bukan kerja ringan, tapi tak ada yang tak mungkin jika kita bersungguh-sungguh melakukannya," tandasnya. (r01)
Diberdayakan oleh Blogger.