Teroris Manfaatkan Media untuk Pencitraan

Rabu, 21 Agustus 2013 | 00.06

(SJO, BANDUNG) – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Ansya’ad Mbai menduga teroris di Indonesia kini memanfaatkan media massa untuk pencitraan mereka. Menurut Mbai, media hendaknya hati-hati bila mengangkat berita soal terorisme, jangan sampai terbawa oleh strategi mereka yang memanfaatkan media massa. Hal itu diungkapkan Mbai saat temu wartawan di Bandung, Selasa (20/8/13) siang.

“Hal yang terpenting adalah media massa harus hati-hati dengan strategi mereka yang memanfaatkan media massa untuk pencitraan mereka sendiri. Contohnya adalah berita tentang penangkapan terduga teroris di beberapa tempat. Yang muncul di media massa adalah penculikan terhadap aktivis masjid atau keagamaan. Hal itu kan jadi memunculkan simpati buat teroris, dan kebencian untuk Densus 88. Padahal dalam melakukan penangkapan terduga teroris, Densus tidak main-main dan sangat hati-hati” tutur Mbai.

Ansya’ad Mbai juga menyoroti tentang penembakan polisi di beberapa tempat akhir-akhir ini. Menurut Mbai, itu juga tidak lain daripada kerja teroris. Mereka menganggap polisi musuh mereka karena berhasil menggagalkan beberapa rencana aksi pengeboman.

“Bagi mereka negara ini adalah musuh, terutama polisi yang di mata mereka sebagai penghalang aksi. Ini juga harus kita waspadai” katanya.

BNPT sendiri saat ini tengah melakukan road show ke beberapa daerah untuk mengajak media massa bekerjasama dalam memerangi teroris.


Harus Dirangkul

Pada acara yang sama,  Ustad Abducahman Ayub, mantan pentolan Jamaah Islamiyah (JI) membeberkan pengalamannya ketika dia masih menjadi anggota JI. Menurut Abdurachma Ayub, pananggulangan terorisme harus dilakukan dengan berbagai cara, termasuk dakwah kepada mereka.

“Mereka itu harus disadarkan kembali ke jalan  yang benar. Selain penegakan hukum bagi mereka yang sudah terbukti melakukan teror, maka dakwah terhadap mereka yang masih di sana juga harus terus dilakukan” katanya.

Menurut Ayub, pemahaman mereka terhadap konsep negara Islam dan jihad itu yang salah. Mereka diberikan informasi yang salah oleh pentolan-pentolan JI, seperti dirinya dulu.

“Tahun 85 saya mulai masuk JI pimpinan Abubakar Baasyir, sampai saya memimpin JI di Australia. Nah ketika di Australia itulah Saya melakukan korespondensi dengan para ulama di Madinah yang menyatakan bahwa konsep negara Islam yang digembar gemborkan oleh pimpinan JI dai dunia itu salah alias keliru. Saya banyak berdebat menggunakan dalil-dalil dengan para ulama di Madinah itu, dan Saya kalah debat lalu tersadarkan atas kekeliruan itu” tutur Ayub.

Abdurachman Ayub mendo’akan agar teman-temannya yang masih berada di Jamaah Islamiyah segera disadarkan dan kembali ke jalan yang benar.

“Islam itu harus menjadi rahmat bagi alam semesta, bukan menjadi ancaman” .(r22)

Teroris Tanjung Gusta Kabur, Polrestabes Bandung Siaga

Senin, 22 Juli 2013 | 22.30

(SJO, BANDUNG) - Tidak menutup kemungkinan napi teroris yang kabur dari Lapas Tanjung Gusta bersembunyi di Bandung. Untuk itu, Polrestabes Bandung terus meningkatkan kewaspadaan, terutama mengawasi tempat-tempat yang diduga bisa dijadikan persembunyian.

Kapolrestabes Bandung Komisaris Besar Kepolisian Sutarno menyatakan terus memonitor perkembangan pencarian napi kabur dan terus koordinasi dengan Mabes Polri

"Seluruh anggota  telah bersiaga. Foto-foto para napi yang kabur dari Lapas Tanjung Gusta juga sudah disebar dan dipasang di sejumlah polsek di Bandung. Informasi itu sudah kita sebar di polsek-polsek, baik langsung maupun lewat telepon,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun wartawan, ada tiga kecamatan di Bandung yang diduga menjadi tempat persembunyian napi yang kabur dari Lapas Tanjung Gusta. Dugaan ini karena ada salah satu anggota teroris yang pernah disergap di Bandung.

Di samping itu, peristiwa penyergapan teroris oleh Densus 88 Antiteror Mabes Polri di Cigondewah, Bandung, beberapa waktu lalu, juga menjadi alasan kuat kepolisian untuk meningkatkan kewaspadaannya. (r22)

Perburuan Teroris Berlanjut ke Kiaracondong dan Cimahi

Jumat, 10 Mei 2013 | 16.37

(SJO, BANDUNG) – Aparat kepolisian terus memburu para teroris, paska penggerebekan di Cigondewah, Kabupaten Bandung,  dua lokasi lagi jadi sasaran penggeledahan,  yakni sebuah tempat kos di kawasan Kiara Condong Bandung, dan sebuah ruko di Melong Kota Cimahi.

Menurut Kapolrestabes Bandung Kombes Polisi Abdurahman Baso, tempat kos di Jalan Arum Sari Kiaracondong diduga dijadikan tempat persembunyian terduga teroris bernama Tedi, yang kini berstatus buron.

Penggeledahan dilakukan  Kamis (9/5/13) sejak sore hingga malam. Hasilnya, ditemukan senjata laras panjang jenis US Carabbian, peredam senjata, 5 butir amunisi berukuran 9 milimeter, 15 butir amunisi berukuran 39 milimeter special,  dan beberapa benda lainnya yang diduga untuk membuat bahan peledak.

Sementara itu penggeledahan sebuah ruko di Kota Cimahi, diakukan aparat Polda Jabar dan Polres Cimahi. Penggeledahan dilakukan kurang lebih selama tiga jam sejak Jumat (10/5/13) pagi.

Ruko berlokasi di Jalan Sindangsari Blok F, Kelurahan Melong, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, itu digunakan oleh Budi Syarif alias Angga alias Benny dijadikan sebagai tempat jasa reparasi AC.  Ruko tersebut diduga masih berkaitan dengan kelompok teroris yang terlibat baku tembak dengan Densus 88 di Cigondewah, Kabupaten Bandung.

Hasil penggeledahan di sini, tim Densus dan petugas dari Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) Polda Jabar, menemukan sejumlah barang bukti terkait dengan peralatan terorisme.

Kepala Bidang Humas Polda Jabar Komisaris Besar Martinus Sitompul, menyebutkan ruko milik Andi warga Sindangsari, diduga kuat masih satu jaringan dengan terorisme Cigondewah. “Itu hasil analisis kami, dan investigasi di lapangan,” kata Kombespol Martinus. (R22)

Polda Jabar Bantah Teroris Cigondewah Memiliki Sandera

Rabu, 08 Mei 2013 | 16.09


(SJO, BANDUNG) Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat (Jabar) membantah adanya sandera terkait pengepungan rumah yang digunakan sebagai tempat persembunyian teroris di Cigondewah Hilir, Cimahi, Rabu (8/05/2013).

Polda Jabar hanya memback up densus 88 Polri, dan juga perlu diketahui tidak ada sandera dalam kejadian ini “ Tidak ada sandera, tulis besar-besar itu” tegas Kabid Humas Kombes Pol Martinus Sitompul melalui selulernya saat dihubungi seputarjabar.com.

Sebanyak 4 orang teroris menyerang densus 88 dengan tembakan dari dalam rumah, pihak kepolisian sampai saat ini masih mensterilkan kawasan rumah dimana teroris bersembunyi.(Don)

Densus Baku Tembak Dengan Teroris di Cigondewah Bandung

(SJO, BANDUNG) – Aparat Densus 88 baku tembak dengan terduga teroris dalam penggerekan di sebuah rumah di RT2/RW8 Batu Rengat, Cigondewah Hilir, Marga Asih, Kabupaten Bandung , Rabu (8/5/2013) siang. Pengepungan berlangsung Rabu (8/5/2013) hari ini sejak pukul 11.00 WIB.

Operasi ini merupakan lanjutan penangkapan dua terduga teroris yang berencana meledakan kantor Kedubes Myanmar. Dari kedua terduga teroris itu, Densus 88 menyita lima bom rakitan siap ledak, sejumlah bahan peledak dan catatan cara merakit bom. Selain itu, polisi juga telah menangkap empat anggota keluarga terduga teroris Sigit, masing-masing  berinisial S (44), istrinya N (21), adiknya N (18), dan adik ipar Sigit berinisial A (14).

Sampai Rabu (8/5/2013) siang Sigit masih dalam pencarian. Aparat Densus 88 tak mendapati Sigit saat penggerebekan di rumah kontrakannya, Jalan Kenanga 4 Nomor 61, RT 5 RW 3, Kelurahan Benda Baru, Kecamatan Pamulang Kota, Tangerang Selatan, Jumat (3/5/2013) dini hari. Di kontrakan itu, polisi hanya menemukan buku-buku, telepon seluler, dan kamera.

Wakapolri Komjen Nanan Sukarna dan Kapolda Jabar Irjen Pol Tubagus Anis Angkawijaya meninjau lokasi penggerebekan. “Jaringan mereka (teroris yang akan meledakkan Kedubes Myanmar), yang pasti ini pengembangan yang kemarin,” kata Wakapolri.

Nanan menerangkan empat terduga teroris yang bersembunyi di kontrakan milik warga lokal ini baru tinggal empat bulan di sana. (don)
Diberdayakan oleh Blogger.