Desa Sukanagara Hadapi Masalah Kesehatan

Senin, 22 Oktober 2012 | 03.18

DESA Sukanagara terletak di Kecamatan Sukanagara, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat. dan salah satu Desa yang paling dekat dengan Kota Kecamatan, memiliki batas wilayah: sebelah utara berbatasan dengan Desa Sukamekar, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Gunungsari dan Desa Sukalaksana, sebelah timur berbatasan dengan kecamatan Pagelaran, dan sebelah barat berbatasan dengan Desa Gunungsari. Luas wilayah Desa Sukanagara 1.497,350 Ha. terdiri dari pemukiman penduduk, pasar, pertanian dan paling luas kawasan perkebunan dan kawasan kehutanan.

Curah hujan di Desa Sukanagara 2,500 Mm dengan suhu rata-rata hariannya adalah 19-24°C. Desa ini berada di ketinggian 900 mdl dari permukaan laut dan wilayahnya merupakan dataran tinggi. Jarak dari Kecamatan Sukanagara ke Desa Sukanagara sekitar 300 meter dan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor atau jalan kaki kira-kira memerlukan waktu lima menit. Sedangkan jarak ke Ibu Kota Propinsi Jawa Barat yaitu Bandung sekitar 111 kilometer dan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor kira-kira memerlukan waktu 6  jam. Desa ini memiliki tingkat kemiringan tanah 45ยบ, memiliki lahan kritis 500 ha, tingkat erosi tanah ringan sebesar 147,350 ha, tingkat erosi sedang sebesar 150 ha/ m2, luas tanah erosi berat 500 ha/m2, dan luas tanah yang tidak ada erosi 200 ha.

Komoditas tanaman pangan yang ditanam di desa ini, diantara adalah padi sawah, padi ladang, cabe,  tomat, kol, kacang-kacangan dll sedangkan jenis komoditas buah-buahan didominasi oleh pisang. Pemasaran hasil perkebunan dijual melalui tengkulak.

Jenis populasi ternak di Desa Sukanagara diantaranya sapi dengan jumlah pemilik 20 orang dan perkiraan jumlah populasi 100 ekor. Kerbau dengan jumlah pemilik 1 orang dan perkiraan jumlah populasi 3 ekor. Ayam kampung dengan jumlah pemilik 120 orang dan perkiraan jumlah populasi sebanyak 4.700 ekor. Terakhir domba dengan jumlah pemilik 50 orang dan perkiraan jumlah populasi 200 ekor. Sedangkan produksi peternakan Desa Sukanagara adalah susu dan daging yang dikelola oleh koperasi.

Desa Sukanagara memiliki budidaya ikan air tawar dengan sarana empang/kolam sebesar 1.600 m2 dengan hasil 0,850 ton/th. Pemasaran hasil perikanan tersebut adalah dengan dijual langsung ke konsumen dan kepasar induk Desa Sukanagara.

Jumlah penduduk Desa Sukanagara sampai akhir Desember 2011 adalah 5.996 (laki-laki : 2.997 orang dan perempuan : 2.999 orang) dengan jumlah KK (Kepala Keluarga) sebanyak 1.597 KK.

Jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian pokok adalah: petani sebanyak 156 orang, buruh tani sebanyak 265 orang, PNS sebanyak 228 orang, pengrajin industri rumah tangga sebanyak 15 orang, pedagang keliling sebanyak 30 orang, peternak sebanyak 20 orang, pensiunan PNS sebanyak 33 orang, dukun kampung terlatih sebanyak 1 orang, arsitek sebanyak 1 orang, karyawan perusahaan swasta 38 orang, dan karyawan perusahaan pemerintah sebanyak 150 orang.   Jumlah kelahiran dan kematian di Desa Sukanagara setiap tahunnya tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan tingkat mobilitas penduduk ke luar desa yang cukup tinggi.  Jumlah kepadatan penduduk di desa ini adalah 15/km2.
Di desa ini terdapat 1.597 jumlah kepala keluarga.

Penduduk Desa Sukanagara yang menganut agama Islam sebanyak 5.990 orang dan yang menganut agama kridten sebnyak 6 orang dengan etnis Sunda sebanyak 4.415 orang dan etnis Jawa sebanyak 33 orang. Di desa ini terdapat 11 masjid jami dan 26 mushala/langgar/surau yang digunakan untuk beribadah dan mengadakan kegiatan keagamaan. Kehidupan beragama desa ini juga tercermin dalam kegiatan keagamaan lain berupa peringatan maulid/ kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. yang biasa disebut dengan muludan,  acara tersebut biasa dilakukan di masjid atau mushala dan diisi dengan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an, ceramah, serta bazanjian (pembacaan kitab barzanji) yang berisi bacaan shalawat. Selain itu tradisi mingonan masih dilakukan di desa ini, tradisi ini berupa pengajian yang biasa dilakukan setiap seminggu sekali di masjid atau mushala yang terdapat di tiap ke-RT-an.

Secara umum, masalah kesehatan di Desa Sukanagara kurang baik. Jarak antara jamban dan septictank yang terlalu dekat mengakibatkan kebersihan air kurang terjaga, selain itu jarak dari rumah ke kandang peternakan hewan juga dekat, namun kebersihan udara di desa ini cukup terjaga.  Jenis penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat di desa ini adalah reumatik, darah tinggi, dan demam. Fasilitas kesehatan di desa ini masih kurang memadai, hal ini ditunjukkan dengan jumlah ketersediaan posyandu yang hanya berjumlah 1 unit dan terletak di Sukanagara. Selain itu terdapat sarana kesehatan lain berupa puskesmas bantuan yang terletak di Desa Sukanagara, serta terdapat tenaga kesehatan dukun bersalin terlatih dan bidan yang berjumlah masing-masing 1 orang. Untuk warga yang tidak mampu dianjurkan untuk membuat SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu). Dengan  adanya SKTM, biaya kesehatan untuk warga yang tidak mampu bisa gratis karena diambil dari anggaran kesehatan APBD Kabupaten Cianjur. Selain pembuatan SKTM, ada pula Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat). Namun Jamkesmas mempunyai kendala yaitu: pemberiannya belum merata, kurang tepat sasaran, serta pihak RT tidak dilibatkan dalam pembagian Jamkesmas karena yang diutus untuk memberikan Jamkesmas adalah kader dari puskesmas kecamatan. (red)

Merambah Hutan Salah, Beternak Sapi Susah

DESA Taruma Jaya Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung Prop. Jawa Barat terletak 40 km dari kota Bandung di kaki G. Wayang Windhu dengan ketinggian 1800 feet diatas permukaan laut, luasnya kurang lebih 3700 ha. Total populasi di desa tersebut 10830 jiwa dengan 2995 kepala keluarga. Pada saat ini kebanyakan masyarakat di desa tersebut adalah beternak sapi perah dan berkebun. Di desa Taruma Jaya terdapat 7 mata air: 1.) Pangsiraman 2.) Cikahuripan 3.) Cikoleberes 4.) Cikawudukan 5.) Cihaniung 6.) Cihamurang 7.) Cisanti yang merupakan hulu dari Sungai Citarum.

Pada saat ini terdapat kurang lebih 2700 ekor sapi pada desa Taruma Jaya, dimana 900 ekor sapi di sekitar S. Citarum, dan yang persis di samping Sungai Citarum berjumlah 400 ekor.

Dengan banyaknya ternak di sekitar S.Citarum menyebabkan keruhnya air di hulu Sungai Citarum tersebut.

Kondisi Peternakan Sapi Perah di desa Taruma Jaya terdapat kurang lebih 2700 ekor sapi, 1 ekor sapi menghasilkan kurang lebih 15 l susu setiap hari, dan memakan kurang lebih 60 kg pakan ternak. 2700 ekor sapi tersebut di miliki oleh sekitar 1751 kk, sehingga 1 kk rata rata memiliki 2 ekor sapi.

Limbah yang dihasilkan oleh peternakan sapi tersebut per 1 ekor sapi mengeluarkan kotoran rata-rata 40 kg sedangkan dari makanannya dari 60 kg yang disediakan tersisa kurang lebih 10 kg makanan, sehingga total limbah dari peternakan per 1 ekor sapi adalah 50 kg. Total limbah yang dihasilkan perhari dari desa Kramat Jati adalah 50 kg x 2700 = 135.000 kg atau 135 ton per hari.

Pada saat ini limbah ternak sapi tersebut langsung di buang ke sungai hulu citarum yang membelah desa Taruma Jaya, sehingga menyebabkan air sungai tersebut sangat keruh.

Menurut keterangan masyarakat setempat pada awalnya kondisi hulu sungai menjadi sumber air minum bagi masyarakat setempat dengan cara memasang pipa-pipa yang disalurkan kerumah. Hal ini dilakukan oleh mereka karena sumber air sudah dibagi menjadi 2, yaitu untuk keperluan pertanian, peternakan dan untuk keperluan rumah tangga.

Karena itu perlu dilakukan analisa terhadap kualitas air disekitar daerah peternakan dengan pemillihan parameter kunci;
alternatif pengelolaan limbah peternakan, serta bekerjasama dengan BPLD Bandung dan Laboratorium setempat. (red)

Ancaran, Desa Asal Pebisnis Ulung

ANCARAN adalah desa di kecamatan  Kuningan, Kuningan, Jawa Barat, Indonesia.Pada dasarnya status pemerintahan Desa Ancaran bisa ditingkatkan menjadi Kelurahan, mengingat di desa Ancaran banyak terdapat perkantoran pemerintah termasuk gedung DPRD, dan letaknya yang masih masuk ke dalam akses batas kota. Namun karena keinginan warganya yang ingin status Ancaran tetap menjadi sebuah desa, maka sampai sekarang Ancaran belum bisa dijadikan Kelurahan. Desa ancaran dipimpin oleh seorang Kepala desa atau Kuwu. Sebagai aparatur negara, Kuwu dibantu oleh kepala dusun, pamong desa dan hansip. Satu dusun atau kampung biasanya merupakan satu RW (Rukun Warga) yang membawahi beberapa RT (Rukun tetangga). RW dipimpin oleh Ketua RW dan RT dipimpin oleh Ketua RT.

Desa Ancaran terdiri dari 5 Dusun/Kampung, 6 RW dan 30 RT sebagai berikut:
    * Dusun Manis (RW 01 terdiri dari 5 RT),
    * Dusun Pahing (RW 02 terdiri dari 5 RT),
    * Dusun Puhun (RW 03 terdiri dari 6 RT),
    * Dusun Wage (RW 04 terdiri dari 5 RT),
    * Dusun Bojong (RW 05 terdiri dari 5 RT,
    * Dusun Bojong Kavling ( RW 06 terdiri dari 4 RT,


Batas wilayah desa Ancaran

    * Di sebelah utara berbatasan dengan desa Cikubangsari Kecamatan Kramatmulya .
    * Di sebelah selatan berbatasan dengan desa Sindangsari Kecamatan Sindangagung.
    * Di sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Ciporang Kecamatan Kuningan.
    * Di sebelah timur berbatasan dengan desa Sindangagung Kecamatan Sindangagung.

Wilayah desa Ancaran berbukit - bukit. Keadaan iklim desa Ancaran dipengaruhi oleh iklim tropis dan angin muson, dengan temperatur bulanan berkisar antara 18° C - 32° C serta curah hujan berkisar antara 2.000 mm - 2.500 mm per tahun. Pergantian musim terjadi antara bulan November - Mei adalah musim hujan dan antara bulan Juni - Oktober adalah musim kemarau.

Orang-orang desa Ancaran dikenal sebagai pebisinis ulung, banyak diantaranya yang berdagang di Pasar Baru Kuningan, Pasar Cilimus dan sampai keluar Kuningan terutama jenis konveksi.

Seperti daerah lainnya di Kuningan  kebanyakan pertanian yang berkembang adalah tanaman padi dan palawija.Hasil perkebunan yang biasanya dibudidayakan kebanyakan dari jenis buah-buahan seperti:pisang, mangga, rambutan dan juga melinjo.

Penduduk desa Ancaran berjumlah 7359 orang, terdiri dari:

    * 3768 orang laki-laki
    * 3591 orang perempuan

Mayoritas penduduk Desa Ancaran bermatapencaharian berdagang dan bertani, mereka berdagang pakaian ke luar propinsi, sebagian besar di propinsi Jawa Tengah dan Jawa timur seperti di Magelang, Cepu, Bojonegoro, Jember, dan lain-lain. Ada pula yang berdagang ke Lampung dan Kalimantan.

Penduduk Desa Ancaran adalah penduduk yang sangat dekat dengan Agama Islam. Ada hal yang antik dari Ancaran yaitu meski masuk dalam lingkungan kota, tetap Desa Ancaran men-tabu-kan yang namanya speaker masuk dalam lingkungan ibadah keagaamaan seperti untuk adzan, makanya tidak akan ditemukan speaker di Mesjid Jami Desa Ancaran.

Gembyung merupakan seni khas dari Desa Ancaran, maka tak heran jika banyak berdiri Group kesenian Gembyung di desa ini.

Sangat disayangkan kesadaran terhadap pentingnya pendidikan formal di desa Ancaran masih sangat kurang. Walaupun akhir-akhir ini semakin meningkat, namun masih kalah jauh bila dibandingkan dengan desa-desa lain di sekitarnya.Namun demikian kekurangan pendidikan formal tersebut di imbangi kelebihannya dalam pendidikan informal(pendidikan pesantren), hampir 90% warganya pernah mengenyam pendiidkan di pesantren tradisional. Desa Benda yang berada di kab. Cirebon merupakan salah satu daerah yang banyak di tuju oleh sebagian besar warga Ancaran untuk mengenyam pendidikan pesantren. Rata-rata warga Ancaran mengenyam pendidikan di pesantren setelah lulus dari pendidikan formal setara SD.

Untuk mencapai desa Ancaran dari pusat kota Kuningan  tidaklah sulit, karena di desa Ancaran juga terdapat terminal. Jaraknya dari kota Kuningan kurang lebih 4 km. Desa Ancaran dilewati kendaraan dari arah kota Kuningan ke daerah timur seperti Luragung, Lebakwangi, Cidahu, Cibingbin dan Ciawigebang. Ada tiga angkutan umum yang melewati jalan raya Ancaran yaitu:

    * angkot 06 jurusan Pasar baru-Kertawangunan
    * angkot 10 jurusan Pramuka-Kertawangunan
    * Angkot jurusan Padamenak - Kertawangunan

Selain itu pula dilewati oleh Bus Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) seperti Keluarga Luragung Jaya, Setianegara, Sahabat dengan jurusan Kuningan - Jakarta. Bus Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP)seperti Bus DAMRI dengan jurusan Kuningan - Bandung, dan Bus Karunia Jurusan Kuningan - Cikijing - Bandung. dan yang terbaru dari Jember ada Bus jurusan jember - Kuningan "SANDY PUTRA". (wik)
Diberdayakan oleh Blogger.