Pemerintah Hanya Izinkan Missword Digelar di Bali

Senin, 09 September 2013 | 03.47

(SJO, JAKARTA) - Setelah heboh kontroversi penyelenggaraan Miss World, akhirnya pemerintah mengambil jalan tengah. Pelaksanaan gelaran Miss World pertama di Indonesia ini diberikan hanya di Pulau Bali. Sebelumnya, rangkaian kegiatan Miss World 2013 di Indonesia itu akan berlangsung di Jakarta, Bogor, dan Bali.

"Kami melakukan revisi terhadap izin keamanan, disesuaikan, yaitu di Bali. Dengan demikian maka acara Miss World itu diadakan perubahan-perubahan sesuai dengan aspirasi masyarakat dan kepentingan kemajuan dunia pariwisata Indonesia," kata Menko Kesra Agung Laksono di kediaman Wapres Boediono di Jakarta, Sabtu seperti dikutip Antara.

Selain itu, penyelenggaraaan yang dilakukan disesuaikan sedemikian rupa dengan norma-norma, kebudayaan dan adat istiadat ketimuran bangsa Indonesia, sehingga dalam penyelenggaraan Miss World ini, acara-acara yang dipandang tidak sesuai dengan norma-norma ketimuran seperti acara yang menggunakan bikini atau pakaian renang itu ditiadakan.

Bahkan, panitia diminta untuk mewajibkan peserta mengenakan pakaian daerah Indonesia sebagai ajang pengenalan budaya Indonesia. "Yang selalu jadi persoalan adalah baju renang yang `two pieces` atau bikini yang disyaratkan di negara-negara lain tapi sekarang terbalik, panitianya mensyaratkan tidak ada itu. Malah peserta akan diminta untuk menggunakan baju daerah," kata Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sapta Nirwandar.

Sapta mendampingi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono bersama Kepala Kepolisian RI Jenderal (Pol) Timur Pradopo menggelar jumpa pers terkait penyelenggaraan Miss World 2013 di Indonesia. Dalam jumpa pers tersebut, Agung mengatakan bahwa pemerintah mendukung penyelenggaran Miss World 2013. Hanya saja, pemerintah menekankan agar pelaksanaan Miss World 2013 dipusatkan di Bali.

Keputusan ini diambil setelah Pemerintah mempertimbangkan aspirasi masyarakat yang berkembang selama ini. Pemerintah juga meminta agar peserta Miss World nantinya tidak mengenakan bikini atau pakaian lain yang dianggap tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Sebagai gantinya, para peserta akan mengenakan pakaian nasional Indonesia.

Penyelenggaraan Miss World 2013 di Indonesia menuai penolakan dari sejumlah kalangan. Mereka yang menolak kontes ratu ayu sejagat itu rata-rata mempermasalahkan pakaian yang akan digunakan para peserta. Majelis Ulama Indonesia, misalnya, mengkhawatirkan para peserta kontes kecantikan itu akan mengumbar aurat.

Selain itu, penolakan datang dari sejumlah elemen masyarakat di Jawa Barat ketika mendengar rencana malam puncak final Miss World akan digelar di Sentul Convention Center, Sentul, Bogor, Jawa Barat. Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar bahkan menyarankan agar Miss World 2013 tidak digelar di wilayahnya.(R21)

Penolakan Penyelenggaraan Miss World Makin Meluas

Rabu, 04 September 2013 | 00.14

(SJO, JAKARTA) - Perhelatan Miss World 2013 yang digelar di Indonesia terus menuai protes. Hari  Selasa, 3 September 2013, ratusan orang yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) dan Front Pembela Islam (FPI)melakukan long march dari arah Tanah Abang melalui Jalan Wahid Hasyim menuju kantor Hary Tanoesoedibjo (HT) di MNC Tower, dan Kantors Kedubes AS di Jakarta. Sesampainya di lokasi mereka langsung menggelar demo.

Dalam orasinya, mereka menolak kegiatan yang akan diikuti sekitar 136 negara ini, termasuk Indonesia. Rencananya acara ini akan digelar di Bali dan Bogor, Indonesia. Seperti diketahui ajang ratu kecantikan sejagad ini akan dilakukan pertengahan September 2013 di Bali dan Bogor.

Pengunjukrasa dari FPI juga menyuarakan penolakan yang sama. "Hary Tanoe keluar...," teriak mereka.

Menurut salah satu orator, ajang Miss World hanya mengekspose wanita tanpa busana. Selain itu, Hary Tanoe hanya mencari keuntungan semata.

"Pagelaran Miss World bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945," kata salah satu orator.

"Miss World tidak sesuai budaya Indonesia," kata pengunjukrasa.

Penolakan penyelenggaraan Miss World juga disuarakan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang bermarkas di Yogyakarta. MMI berpendapat bahwa gelaran Miss World merusak martabat perempuan Indonesia dan menghancurkan moral bangsa, karena budaya perempuan Indonesia malu memamerkan auratnya di depan umum.

"Menyatakan perang terhadap penyelenggaraan acara Miss World di seluruh wilayah Indonesia," isi pertama dari tiga keputusan MMI terkait Miss World di Indonesia.

Selain itu MMI menuntut pemerintah Indonesia untuk membatalkan penyelenggaraan acara tersebut. MMI juga menyerukan seluruh masyarakat Indonesia, apapun agamanya, untuk menggagalkan penyelenggaran Miss World tersebut.

Sementara itu ratusan orang dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) DPD Jawa Tengah juga menggelar aksi demo di depan Gedung DPRD Jateng, menolak penyelenggaraan Miss World.

 “Kami menolak digelarnya acara yang mengeksploitasi tubuh perempuan itu, karena tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Kami juga menyerukan kepada seluruh perempuan Indonesia untuk mengembalikan harkat dan martabat perempuan menjadi perempuan yang mulia dan menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagaimana ketentuan Allah,” kata koordinator aksi Hizbut Tahrir Indonesia DPD Jawa Tengah, Ari Sulisdiyanto.

Menteri Agama Suryadharma Ali menyatakan Kementerian Agama tetap berpegang pada fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam menyikapi kontes kecantikan Miss World 2013 yang akan digelar di Bali.
Yang jelas, dari sisi Kementerian Agama tetap berpegang kepada fatwa Mejelis Ulama Indonesia bahwa sebaiknya kontes tersebut tidak diselenggarakan di Indonesia," kata Suryadharma Ali kepada pers di Jakarta, Selasa (3/9/2013).

Suryadharma yang jutga Ketua Umum PPP itu menegaskan, meskipun saat ini antarkementerian belum memiliki persepsi yang sama dalam menyikapi ajang tersebut, Kementerian Agama tetap mengacu pada fatwa MUI. "Bisa jadi Kementerian Perdagangan menyebut bisa mendatangkan devisa, Kementerian Pariwisata lain lagi. Rujukan kami tetap kepada fatwa MUI," ujarnya.

Sebelumnya, MUI telah menyatakan menolak keras penyelenggaraan Miss World karena tidak sesuai ajaran Islam yang mewajibkan muslimah menutup aurat. "Bukan hanya tidak sesuai ajaran Islam, nilai yang diusung ajang Miss World juga sangat berbeda dengan budaya Indonesia. Saya berharap agar tidak ada kontroversi di kita. Kita memerlukan ketenangan," tutur Suryadharma. (tim)

FPI Jabar Minta Gubernur Tolak Acara Miss World 2013

Selasa, 27 Agustus 2013 | 02.47

(SJO, BANDUNG) - Front Pembela Islam (FPI) berencana akan mendatangi kantor Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan (Aher) sebagai upaya penolakan acara Miss World 2013 di Indonesia.

"Kami secepatnya akan mendatangi dan mendesak Gubernur Jawa Barat untuk tidak merestui gelaran final Miss World di Bogor," ujar Sekretaris FPI Jabar Evi Arifin, Senin (26/8/2013).

FPI juga meminta kepada Kepolisian Daerah (Polda) Jabar untuk tidak mengeluarkan izin perhelatan itu. "Kita juga meminta Polda Jabar untuk tidak mengeluarkan izin," tutur Arifin.

Belum diketahui kapan FPI Jabar menggelar aksinya. "Kita lihat perkembengan nanti. Kita ikuti sikap MUI (Majelis Ulama Islam) mengenai acara tersebut," jelas dia.

Miss world sesuai rencana akan digelar pada akhir September 2013. Bali, Jakarta, dan Bogor rencananya akan digunakan untuk perhelatan acara.

Sebelumnya, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri KH Muhyiddin Junaidi menyatakan penolakan acara itu karena beberapa pertimbangan, yakni Al Quran surat Al Ahzab 50 yang memerintahkan para perempuan untuk mengenakan jilbab.

Pemilihan Miss World juga bertentangan dengan semangat konstitusi UUD 1945 terutama pasal 32 yang menyebutkan negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memilihara dan mengembangkan nilai budaya. (r22)
Diberdayakan oleh Blogger.