Pemprov Jabar Siapkan Lahan Tani Kedelai

Minggu, 01 September 2013 | 04.10

(SJO, TASIKMALAYA) - Gubernur Provinsi Jawa Barat Ahmad Heryawan menyatakan, pihaknya tengah menyiapkan lahan pertanian kedelai di beberapa kabupaten se-Jabar. Hal ini menyusul tingginya harga bahan baku tahu tempe di pasaran, karena mengikuti standar harga dollar.

"Kedelai mahal kan gara-gara impor dari luar negeri. Coba kalau ada pertaniannya pasti bisa murah. Maka sekarang kita sedang menyiapkan lahannya di beberapa kabupaten se-Jabar, soalnya kedelai cocok dengan kontur tanah di sini," terang Heryawan seusai berkunjung ke pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, Sabtu (31/8/2013).

Aher pun meminta seluruh Dinas Pertanian di kabupaten dan kota se-Jabar untuk menyosialisasikan potensi bertani kedelai. Terlebih saat ini harga kedelai hampir sama dengan harga beras per kilonya.

"Jadi petani nantinya bukan hanya mengandalkan hasil tani dari padi saja. Kedelai pun sekarang mahal harganya," tambah dia.

Namun, saat ditanya lokasi daerah mana saja yang akan disiapkan untuk lahan pertanian kedelai dan waktu realisasinya? Pria yang akrab disapa Aher ini belum bisa menjawabnya.

"Yang jelas lahannya akan di beberapa kabupaten, soalnya kalau di kota tidak mungkin. Belum, sekarang kita masih menyiapkan lahannya dulu," kata Aher. (W22)

Bulog Siap Impor 100 Ribu Ton Kedelai

Jumat, 30 Agustus 2013 | 23.53

(SJO, BANDUNG) - Perum Bulog menyatakan siap melakukan impor 100 ribu ton kedelai dari AS sekaligus melakukan pendistribusiannya.  Kepala Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Jabar, Usep Karyana menyatakan informasi impor kedelai sudah didengarnya. Dan Jabar menjadi salah satu yang akan kebagian kedelai impor tersebut.

"Kebutuhan kedelai di Jabar sekitar 20-26 ribu ton per bulan. Mayoritas, lanjutnya, merupakan komoditi impor. Produksi kedelai lokal tidak mencukupi kebutuhan di Jabar," tandas Usep.

Usep mengatakan, saat ini, kedelai menjadi salah satu komoditi prioritas pemerintah. Setelah harga jual komoditi itu melambung sebagai efek biaya impor yang tinggi karena pelemahan rupiah. Tahap awal, lanjut Usep, pihaknya siap mendistribusikan ribuan ton kedelai untuk pemenuhan kebutuhan. "Untuk tahap awal, volumenya sekitar 4 ribu ton," sebut Usep.

Selain mendistribusikan, agar menggairahkan para petani kedelai di tanah air, utamanya Jabar, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 12/2013, pihaknya siap menampung produksi para petani kedelai di tatar
Pasundan. Berdasarkan regulasi itu, tukasnya, pemerintah menetapkan harga patokan pemerintah (HPP) kedelai.

"Nilainya, sekitar Rp 7.000 per kilogram. Itu untuk merangsang gairah para petani kedelai guna meningkatkan produktivitasnya," ucap Usep.(r22)
Diberdayakan oleh Blogger.