PPP Tak Akan Gelar Konvensi Capres

Rabu, 04 September 2013 | 00.02

(SJO, TASIKMALAYA) - Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Suryadharma Ali, mengatakan, partainya tidak akan menggelar konvensi untuk pemilihan figur capres. Pasalnya PPP lebih memilih bersikap realistis menghadapi pilpres 2014 nanti.

Menurut Suryadharma Ali seusai menghadiri acara pemberian bantuan permodalan kepada mantan anggota Jemaah Ahmadiyah di Masjid Agung Kabupaten Tasikmalaya, Senin (2/9/2013), DPP PPP saat ini tengah mencermati sejauh mana peluang PPP dalam menentukan seorang figurnya untuk capres.

"Partai-partai lain sejauh ini sudah menentukan siapa capres maupun cawapres. Termasuk masih ada yang akan melakukan kovensi. Ini menjadi bahan kajian PPP, karena PPP tidak bisa berdiri sendiri. Mesti melirik partai-partai lain. Kita cermati untuk menentukan pilihan yang akan menguntungkan bagi PPP khususnya dan rakyat Indonesia umumnya," katanya.

Namun begitu, Suryadharma mengakui saat ini sudah muncul aspirasi dari DPW PPP yang ingin mengusung dirinya menjadi capres. Usungan itu sudah datang dari 20 DPW. "Sejauh ini mulai bermunculan keinginan-keinginan yang disampaikan oleh pengurus wilayah (DPW, Red). Sudah hampir 20 provinsi yang meminta agar Ketua Umum DPP PPP bersedia maju sebagai capres," ungkapnya.

Bahkan diperkirakan dalam waktu dekat DPW se-Jawa juga akan menyampaikan aspirasinya agar dirinya bersedia mencalonkan diri jadi presiden. Aspirasi lainnya, kata Suryadharma, muncul dari para ulama.

"Tapi saya masih mencermati semua perkembangan itu, dan seberapa besar dukungan itu, dan seberapa logis dikatakan iya, dan seberapa logis dikatakan tidak. Saat ini saya sedang melakukan pertimbangan-pertimbangan," jelasnya.

Namun begitu, aspirasi dari pengurus wilayah tetap tidak boleh diabaikan begitu saja. Perlu dipertimbangkan, dikaji dan dianalisa. "Apakah dukungan itu demikian adanya di grassroot atau dari kalangan kader di daerah. Kalau dari grassroot, patut dipertimbangkan," katanya, seraya menambahkan, DPP pun akan melakukan rapat untuk membicarakan perkembangan terkait capres. Tidak hanya potensi internal tapi juga eksternal. (Tsk)

Fuad Bawazier Nilai Wiranto sebagai Capres Gurem

Kamis, 29 Agustus 2013 | 06.08

(SJO, JAKARTA) - Partai Hanura telah menetapkan Wiranto-Hary Tanoesoedibjo yang diusung sebagai calon presiden dan wakil presiden pada pemilu 2014. Penetapan tersebut masih mendapat tentangan dari internal Hanura.

Ketua DPP Partai Hanura Fuad Bawazier meragukan pasangan tersebut dapat dilirik oleh publik. Ia menjelaskan bahwa pencalonan presiden terbagi dalam tiga bagian.

"Ada papan atas, tengah dan gurem," kata Fuad di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Rabu (28/8/2013).

Lalu pasangan tersebut masuk dalam klasifikasi yang mana?

Fuad menjelaskan pasangan yang diusung Partai Hanura masuk dalam golongan gurem. "Yang gurem Wiranto, Rhoma Irama dan lain-lain, banyak," ujarnya.

Menurut Mantan Menteri Keuangan itu, papan atas calon presiden diisi oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo Subianto. Sementara papan tengah diisi Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie.

"Yang pasar gurem pada tahu dirilah, jangan buang-buang energi," tuturnya.

Untuk itu, Fuad pernah menyarankan agar Wiranto membatalkan niatnya menjadi calon presiden. "Iya, jadi hanya kayak lelucon, buang-buang energi saja, mestinya tahu dirilah," ungkapnya.

Fuad malah menilai logis bila terdapat wacana duet Jusuf Kalla dengan Jokowi pada Pemilu 2014.

"Saya kira logis, siapa saja ingin, Jokowi kan lagi di atas, jadi ingin duet sama Jokowi," tutur Fuad.(r21)

Jumhur Maju Capres Didukung Buruh

Selasa, 16 Juli 2013 | 00.49

(SJO, BANDUNG) - Majunya Muhammad Jumhur Hidayat (MJH) dalam konvensi calon Presiden melalui Partai Demokrat dinilai tak hanya merupakan momentum bagi kaum buruh tapi juga rakyat, terutama bagi suku Sunda. Sebab hingga kini baru MJH-lah satu- satunya putra Sunda yang berani maju untuk mencalonkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia periode 2014-2019.

Hal itu diungkapkan Sekjen Forum Ki Sunda Andri P Kantaprawira kepada wartawan di sela konsolidasi sosial media gerakan sejuta buruh mendukung MJH di Bandung, Minggu (14/7/2013).

"Majunya Kang Jumhur bisa menstimulasi tokoh-tokoh Sunda lainnya untuk maju dalam kancah politik. Karenanya kehadiran Kang Jumhur ini patut didukung. Saatnya tokoh Sunda mengucapkan punten abdi ti payun. Tidak lagi mangga ti payun," kata Andri.

Menurut Andri, sangat sedikit putra Sunda yang punya kompetensi, basis sosial politik, popularitas serta elektabilitas secara nasional yang mumpuni untuk maju sebagai capres. "Kang Jumhur adalah salah satunya yang berani. Bagi warga Sunda karena tidak ada tokoh Sunda yang menjadi pimpinan politik, maka jalur konvensi adalah langkah yang paling logis," katanya.

Menurut Andri, Jabar punya posisi sangat strategis dalam percaturan politik di Indonesia. Namun Jabar selalu menjadi "bancakan" tokoh-tokoh politik tanpa ada tokoh Sunda yang ikut manggung.

"Jabar penduduk terbesar di Indonesia, memiliki suara terbesar dan tentunya menyumbang permasalahan yang besar juga. Posisi geopolitik Jabar sangat penting di nasional," ujar Andri.

Dengan majunya MJH dalam konvensi, kata Andri, diharapkan bisa mengartikulasikan kepentingan dan aspirasi tuntutan masyarakat Jabar. "Baik secara sosial, politik, budaya, dan ekonomi pembangunan dalam kerangka pembangunan nasional. Ikatan emosional dan kultural Kang Jumhur terhadap Jabar sangat kuat," kata Andri.

Jumhur sendiri mengatakan tidak perlu ada yang ditakuti oleh orang Sunda kecuali Tuhan. "Sunda adalah suku bangsa terbesar kedua di negeri ini. Para pendiri bangsa kita banyak yang bermukim di tatar Sunda. Bagi saya problemnya bukan berani atau takut. Tapi ada kesempatan atau tidak. Kalau ada kesempatan bagi orang Sunda memimpinrRepublik ini, mengapa tidak," kata Jumhur.

Menurut Jumhur, Jabar dan Banten punya peran penting karena berbatasan langsung dengan ibukota nasional. "Kan aneh kalau Jabar dan Banten tidak berkembang mengikuti perkembangan Jakarta. Saya pribadi melihat masih banyak visi nasional yang tidak menyentuh pembangunan di Jabar dan Banten. Misalnya saja tentang pembangunan pariwisata. Bung Karno saja telah menyiapkan hotel demikian bagus di Pelabuhan Ratu yaitu Hotel  Samudera Beach tapi apakah pembangunan infrastrukturnya sdh bagus khususnya di Jabar Selatan," ujarnya. (r22)
Diberdayakan oleh Blogger.