Selayang Pandang Karier Calon Kapolri Sutarman

Rabu, 09 Oktober 2013 | 10.36

(SJO, JAKARTA) - Komisaris Jenderal Sutarman diperkirakan bakal mulus menduduki kursi empuk Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri). Sebab, jabatan orang nomor satu di Korps Bhayangkara itu membutuhkan sosok yang humanis, tegas, profesional, dan mampu membenahi internal Polri.

Perjalanan karier jenderal kelahiran Sukoharjo, 5 Okotober 1957, ini dinilai sudah memenuhi syarat itu. Terlebih menjelang Pemilu 2014 bakal terjadi kegaduhan politik dan euforia massa yang sangat berpotensi mengganggu kamtibmas.

Sosok Sutarman yang tidak kontroversial dianggap dapat menciptakan suasana kondusif. Itu sebabnya, visi dan misi Kepala Badan Reserse Kriminal Polri yang hendak menjalani fit and proper test di DPR sebelum 25 Oktober 2013 ini ditunggu-tunggu seluruh masyarakat.

Rekam jejak Sutarman juga dinilai meyakinkan. Lulusan Akpol 1981 ini mengawali kariernya sebagai perwira Staf Lantas Polres Bandung Polda Jabar 1982. Jabatan komando yang pertama dipegangnya sebagai Kapolsek Dayeuh Polres Bandung.

Setelah bertugas di Bandung, suami Elly Sutarman ini berkali-kali menduduki jabatan strategis. Ia pernah menjabat Kapolsek Kebon Jeruk, Jakarta Barat (1989), Kapolsek Penjaringan, Jakarta Utara (1991), Kapolres Lombok Timur Polda NTB (1996), dan Kapolres Bekasi (1999).

Jabatan tak kalah penting saat ia menjabat ajudan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (2000-2001). Sejak itu, karier perwira berzodiak Cancer ini terus melejit. Tercatat beberapa kali ia menduduki jabatan strategis, yakni Kapoltabes Palembang, Kapolwiltabes Surabaya, dan Direskrim Polda Jatim.

Yang menarik, Sutarman tiga kali menggantikan Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo di jabatan strategis, yakni saat menjabat Kepala Selapa Polri (2008), Kapolda Jawa Barat (2010), dan Kapolda Metro Jaya (2011). (dbs)

Jejak Karier Ketua MK Akil Mochtar

Jumat, 04 Oktober 2013 | 03.48

(SJO, JAKARTA) - Akil Mochtar, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pada Rabu malam, 2 Oktober 2013, di rumah dinasnya di Jalan Widya Chandra III Nomor 7, Jakarta Selatan. Penangkapan pria kelahiran Putussibau, Kalimantan Barat 18 Oktober 1960, ini diduga terkait pemilihan kepala daerah di Gunung Mas, Kalimantan Tengah. (Baca: KPK Tangkap Akil Mochtar dan Politikus Golkar dan Selain Akil Mochtar, KPK Tangkap 4 Orang Lagi)

Tertangkapnya Akil mengejutkan banyak pihak. Ia dikenal dengan beberapa pernyataannya soal korupsi. Siapa Akil, ini rekam jejaknya.

Lulusan Magister dan Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjajaran Bandung ini terpilih menjadi Ketua MK pada April 2013 lalu, menggantikan Mahfud Md. Masa jabatan Akil terhitung hingga 2016 mendatang. Mengenyam pendidikan hingga S3, Akil banyak menduduki jabatan sebagai ketua semasa menjadi pelajar. Beberapa di antarannya yakni, Ketua OSIS SMA Muhamadiyah Pontianak, Ketua Ikatan Pelajar Muhamadiyah Pontianak, Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Panca Bhakti Pontianak, dan Komandan Batalyon E Resimen Mahasiswa (Menwa) UPB.

Sebelum menjadi Ketua MK, Akil pernah menjadi anggota DPR RI dari Fraksi Golkar. Dia memulai perjalananan kariernya sebagai pengacara pada 1984-1999. Dalam perjalanan kariernya, dia juga pernah menjadi Wakil Ketua Komisi III DPR/MPR RI (bidang Hukum, Perundang-undangan, HAM, dan Keamanan) Periode 2004-2006, Kuasa Hukum DPR RI untuk persidangan di Mahkamah Konstitusi, Anggota Panitia Ad Hoc I dan II MPR RI, dan Anggota Tim Kerja Sosialisasi Putusan MPR RI. (dbs)

Ribuan Pelayat Iringi Jenazah Habib Munzir Ke Peristirahatan Terakhirnya

Rabu, 18 September 2013 | 05.22

(SJO, JAKARTA) Kepergian ulama besar Habib Munzir Almusawa meninggalkan duka bagi para jemaahnya, tak ayal ribuan orang turut mengantarkan jenazahnya ke peristirahatan terakhir di TPU Pemakaman Habib Kuncung, Kalibata, Jakarta Selatan, Senin (16/09/2013).

Habib Munzir Al Musawa meninggal dunia di usianya yang ke 40 tahun akibat sakit asma yang dideritanya. Sebelumnya, jenazah Habib Munzir dimandikan di rumah duka dikawasan komplek Liga Mas, Pancoran. Ditempat yang sama, jenazah Habib Munzir dikafani. Setelah selesai dikafani, jenazah Habib Munzir disalatkan di Masjid Al-Munawwar.

Ribuan pelayat dan  jemaah Majelis Rasulullah tampak mengikuti salat jenazah dengan khusyuk, kebanyakan dari pelayat menumpahkan isak tangis mengenang sosok almarhum yang dikenal sangat mementingkan umat

Antrean pelayat tidak menyurutkan para jemaahnya saat jenazah selesai dishalatkan, para pelayat berebut memegang keranda jenazah Ulama besar itu. Pagi Tadi Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono beserta Ibu Ani Yudhoyono turut melayat ke kediaman almarhum, terlihat raut duka mendalam dari wajah orang nomor satu di Indonesia itu
.

Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa lahir di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, 23 Februari 1973, adalah pimpinan Majelis Rasulullah. Ia merupakan anak keempat dari empat bersaudara dari pasangan Fuad bin Abdurrahman Al-Musawa dan Rahmah binti Hasyim Al-Musawa. Ayahnya bernama Fuad yang lahir di Palembang dan dibesarkan di Mekkah.

Habib Munzir muda  mulai mendalami Ilmu Syariah Islam di Ma’had Assaqafah Al Habib Abdurrahman Assegaf di Bukit Duri Jakarta Selatan, lalu mengambil kursus bahasa arab di LPBA Assalafy Jakarta Timur.

Dia memperdalam lagi Ilmu Syari’ah Islamiyah di Ma’had Al Khairat, Bekasi Timur,yang dipimpin oleh Habib Naqib bin Muhammad bin Syehk Abu Bakar bin Salim,beliau banyak menimba ilmu di ma’had al Khairat dan disinilah beliau kenal dengan Habib Umar bin Hafidz yang kemudian diteruskan ke Ma’had Darul Musthafa di pesantren Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Syech Abubakar bin Salim di Tarim Hadhramaut Yaman pada tahun 1994 untuk mendalami bidang syari’ah selama empat tahun.
Di sana ia mendalami ilmu fiqh, ilmu tafsir Al Qur’an, ilmu hadits, ilmu sejarah, ilmu tauhid, ilmu tasawwuf, mahabbaturrasul, ilmu dakwah, dan ilmu ilmu syariah lainnya.(Bokir)

Habib Munzir Al-Musawa Meninggal Dunia

Senin, 16 September 2013 | 10.13

(SJO, JAKARTA) Pimpinan Majelis Rasulullah Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa meninggal dunia. Dia menghembuskan nafas terakhir pada pukul 15.30 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Ahad (15/9/2013).

Habib Nabil Almusawa kakak dari Habib Munzir,  mengabarkan berita duka tersebut melalui akun twitternya.“Adinda Habib Munzir meninggal, mohon maafkan kesalahannya dan mohon doanya,” tulis Habib Nabil di akun twitternya, Ahad (15/9/2013).

Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa lahir di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, 23 Februari 1973. Ia adalah pimpinan Majelis Rasulullah. Ia merupakan anak keempat dari empat bersaudara dari pasangan Fuad bin Abdurrahman Al-Musawa dan Rahmah binti Hasyim Al-Musawa. Ayahnya bernama Fuad yang lahir di Palembang dan dibesarkan di Mekkah.

Habib Munzir muda  mulai mendalami Ilmu Syariah Islam di Ma’had Assaqafah Al Habib Abdurrahman Assegaf di Bukit Duri Jakarta Selatan, lalu mengambil kursus bahasa arab di LPBA Assalafy Jakarta Timur.

Dia memperdalam lagi Ilmu Syari’ah Islamiyah di Ma’had Al Khairat, Bekasi Timur,yang dipimpin oleh Habib Naqib bin Muhammad bin Syehk Abu Bakar bin Salim,beliau banyak menimba ilmu di ma’had al Khairat dan disinilah beliau kenal dengan Habib Umar bin Hafidz yang kemudian diteruskan ke Ma’had Darul Musthafa di pesantren Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Syech Abubakar bin Salim di Tarim Hadhramaut Yaman pada tahun 1994 untuk mendalami bidang syari’ah selama empat tahun.
Di sana ia mendalami ilmu fiqh, ilmu tafsir Al Qur’an, ilmu hadits, ilmu sejarah, ilmu tauhid, ilmu tasawwuf, mahabbaturrasul, ilmu dakwah, dan ilmu ilmu syariah lainnya.(Bokir/Armh)

Ketua PSSI Jabar Bambang Sukowiyono Meninggal Dunia.

Jumat, 02 Agustus 2013 | 00.22

(SJO, BANDUNG) - Kabar mengejutkan datang dari dunia sepakbola nasional. Ketua PSSI Jawa Barat yang juga mantan pemain Persib Bandung, Bambang Sukowiyono, meninggal dunia.

Suko, sapaan akrabnya, meninggal di RS Borromeus, Kota Bandung, Kamis (1/8/2013). Ia meninggal karena sakit dan sempat dirawat di rumah sakit.

"Iya, Pak Suko meninggal," ujar Wawan Dermawan, salah seorang pengurus PSSI Jawa Barat, melalui pesan singkatnya, Kamis (1/8/2013).

Manager Persib, Umuh Muhtar, juga sudah mendengar kabar tersebut. "Iya saya sudah dengar tadi," katanya di Graha Persib Bandung.

Pukul 19.15 WIB, jenazah almarhum sudah dibawa ke rumah duka di Jalan Libra, Kota Bandung.

Suko sendiri merupakan salah seorang legenda yang membawa Persib berjaya di era 1980-an. Suko bergabung ke persib sejak 1979 hingga 1989. Bersama Persib, ia meraih dua gelar runner-up kompetisi Perserikatan 1983 dan 1985. Suko bahkan membawa Persib juara Perserikatan pada 1986.

Saat aktif sebagai pesepakbola, Suko dikenal sebagai winger dengan kemampuan dribling dan kecepatan mumpuni. Ia juga pernah memperkuat timnas Indonesia. (***)
Diberdayakan oleh Blogger.