Kapolrestabes Bandung: Tak Ada Rekayasa dalam Rekonstruksi Kasus Sisca

Sabtu, 24 Agustus 2013 | 00.07

(SJO, BANDUNG) - Polrestabes Bandung menegaskan, rekonstruksi kasus pembunuhan sadis Fransisca Yofie (34), tidak direkayasa.

Kapolrestabes Komisaris Besar Sutarno menegaskan, rekonstruksi di kawasan Cipedes Tengah, Sukajadi, Kamis (22/8/2013), oleh tim penyidik gabungan Kepolisian, berdasar atas hasil Berita Acara Perkara (BAP).

Selain itu, reka ulang juga diperkuat atau didukung oleh keterangan para saksi dan barang bukti yang ada.

"Adegan yang kami lakukan, sudah sesuai dengan prosedur yang ada. Mengacu kepada keterangan saksi seperti itu. Didukung oleh barang bukti yang kita temukan dan mendukung proses rekonstruksi tersebut," ujar Kapolrestabes di Mapolrestabes, Jumat (23/8/2013).

Namun, Sutarno mempersilakan kalau ada masyarakat yang ingin mengajukan keberatan terkait skenario reka ulang tersebut.

Disebutkannya, bahwa saksi adalah orang yang mengalami sendiri, melihat langsung, dan merasakan langsung. Adapun masyarakat yang menganggap ada ketidaksesuaian, diharapkan Kapolrestabes, hal itu tidak berdasar atas 'katanya-katanya'.
"Kalau misalkan ada ketidaksesuaian, silakan datang langsung kepada kami. Beri keterangan, seperti apa. Jangan katanya, katanya saja," ujar Sutarno.

Lebih jauh, orang nomor satu di Kepolisian di Kota Bandung ini mengatakan, hasil dari reka ulang kasus Sisca akan digunakan untuk kelengkapan berkas kepada kejaksaan. Setelah berkasnya lengkap, akan segera diserahkan ke pengadilan.

Sutarno pun menyebutkan, tim penyidik telah menjelaskan secara keseluruhan mengenai proses rekonstruksi kepada keluarga Sisca. Termasuk beberapa hal yang dianggap oleh keluarga Sisca tidak sesuai.(r22)

Kapolda Tegaskan Tak Akan Intervensi Kasus Sisca

Rabu, 21 Agustus 2013 | 00.26


(SJO, BANDUNG) - Kapolda Jabar Irjen Pol Suhardi Alius menegaskan tidak akan mengintervensi penyidikan kasus pembunuhan Sisca Yofie (34), dan menyerahkan penanganan sepenuhnya kepada Polrestabes Bandung. Penegasan Kapolda disampaikan terkait rencana rekontruksi kasus tersebut yang dijadwalkan digelar pada Kamis 22 Agustus 2013.

Semula, rekontruksi dijadwalkan digelar Senin (19/8) kemarin. Namun agenda itu diundur, Kamis (22/8) lusa. Polisi beralasan tahapan penyelidikan dan penyidikan sudah ditentukan.

Sementara itu Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menilai pengunduran jadwal rekontruksi tersebut mengindikasikan mulai adanya keraguan polisi dalam penyelidikan tersebut. IPW yakin pengunduran rekonstruksi bisa jadi karena polisi mulai ragu dengan hasil penyelidikannya selama ini.

Neta sangat menyayangkan kenapa polisi hanya terpaku pada pengakuan tersangka. Padahal pengakuan tersangka hanyalah salah satu pelengkap dan pendukung dari sebuah perkara, yang utama adalah barang bukti, fakta di tempat kejadian perkara, keterangan saksi-saksi, sidik jari, visum dan olah tempat kejadian perkara.

Terkait penyelidikan kepada Kompol A, Neta menuturkan, Kapolda Jawa Barat Inspektur Jenderal Suhardi Alius mengaku kepada IPW telah mengintruksikan penyidik untuk melihat bukti-bukti yang melibatkan yang bersangkutan. Namun, kata dia, Polda Jabar belum menemukan bukti-bukti tersebut.

Mengenai isu bahwa Kompol A memiliki hubungan dengan petinggi Polri, kata dia, memang benar. Namun, Neta enggan mengatakan siapa petinggi Polri tersebut. Neta hanya menuturkan agar kedekatan dengan petinggi Polri itu tidak mengganggu integritas dan indepedensi Polri sebagai penyidik.

“Isu-isu kedekatan Kompol A dengan petinggi Polri boleh saja benar tapi hal itu jangan mengganggu penyidikan. Polri, harus terbuka,” ucapnya. (r22/r21)

Kapolda Janji Tuntaskan Kasus Pembunuhan Sisca

Jumat, 16 Agustus 2013 | 22.37

(SJO, BANDUNG) - Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Suhardi Alius menyatakan bahwa penyelidikan kasus tewasnya franceisca Yofie (34) atau Sisca belum final. Hingga saat ini, polisi masih terus bekerja untuk mengungkap fakta kasus tersebut.

"Belum final, itu kan masih ada di Polrestabes," ujar Suhardi, usai mengikuti Rapat Paripurna Istimewa di Gedung DPRD Jabar, Jalan Diponegoro, Jumat (16/8).

Meskipun telah melakukan gelar perkara, namun bukan berarti penyelidikan kasus dianggap selesai. Suhardi menegaskan, polisi akan menuntaskan kasus ini agar segera terungkap secara transparan.

Bahkan Jenderal bintang dua ini masih terus memerintahkan Polrestabes Bandung untuk terus lebih mendalami pemeriksaan saksi-saksi.

Kapolda mengatakan akan mengerahkan semua kemampuan untuk mengungkap tabir atas tewasnya manager cantik tersebut. Pasalnya banyak pihak merasa janggal jika Sisca memang tewas lantaran murni penjambretan dengan kekerasan

Sampai Jumat (16/8), sebanyak 19 orang saksi telah diperiksa terkait kasus pembunuhan Sisca. Proses pemeriksaan dilengkapi dengan lie detector (alat pendeteksi kebohongan) untuk memudahkan tim penyidik mengetahui keterangan yang diberikan para tersangka dan saksi benar atau palsu. Sejauh ini kepolisian telah menetapkan enam orang tersangka dalam kasus kematian Sisca yakni D, E, K, dan D serta eksekutor Wawan dan Ade.

Dalam pengakuannya ke penyidik, Wawan dan Ade awalnya ingin mengambil tas dari mobil korban dan tidak bermaksud membunuh perempuan itu. Tetapi, kemudian terjadi saling berebut tas antara Sisca dan pelaku hingga akhirnya wanita itu terseret ratusan meter karena rambutnya yang tersangkut gir motor pelaku.

Terkait kasus yang menyedot perhatian publik ini, Kompolnas mendatangi Mapolrestabes Bandung untuk memeriksa sepeda motor yang digunakan pelaku dalam kasus kematian Sisca Yofie. Kompolnas juga berkoordinasi dengan Polda Jawa Barat untuk mengetahui keterlibatan Kompol Albertus.

Menurut Komisioner Kompolnas Hamidah Abdurrahman, Koordinasi dengan Polda Jawa Barat dilakukan untuk meminta keterangan terkait dugaan keterlibatan anggota kepolisian dalam kasus ini, yakni Kompol Albertus Eko Budiharto. Hal itu merupakan salah satu yang utama.

Hamidah mengungkapkan belum ada indikasi anggota Subid Penmas Bid Humas Polda Jabar terlibat. "Belum ada indikiasi itu. Kita belum bisa memastikan apakah dia terlibat atau tidak," kata Hamidah. (Don/Ali)

Pembunuhan Sisca Berlatar Dendam Orang Dekat?

Sabtu, 10 Agustus 2013 | 11.55

(SJO, BANUDNG) -  Kematian Sisca Yofie (34) masih menyisakan misteri dan teka-teki. Sampai Sabtu (10/8/13) siang, kepolisian belum menemukan pelaku pembunuhan sadis yang terjadi di kawasan Cipedes, Bandung pada Senin (5/8/13). Dugaan sementara, pembunuhan berlatar dendam, dan bisa jadi dilakukan orang dekat korban.

Mengemuka dua versi pembantaian gadis cantik yang menjabat Branch Manager PT Verena Multi Finance itu. Versi pertama, Sisca dibunuh terlebih dahulu, lalu jasadnya diseret hingga 500 meter. Sedang versi kedua, Sisca dihabisi nyawanya oleh dua pelaku menggunakan sepeda motor diseret dan dibacok kepalanya.

Dari CCTV yang diperoleh pihak kepolisian dan sudah menyebar luas ke publik melalui media massa terlihat kedua pelaku menyeret tubuh korban. Tetapi, anehnya korban tak terlihat meronta-ronta saat diseret. Dalam CCTV, jasad Sisca terlihat kaku dan tidak bergerak saat diseret kedua pelaku. Bahkan, ada beberapa saksi yang mengaku melihat kedua pelaku menyeret sebuah benda yang dikiranya sebuah boneka.

Polisi memang sudah menyimpulkan bahwa motif pelaku menghabisi nyawa Sisca adalah dendam. Itu terlihat dari tidak adanya barang-barang Sisca yang raib diambil sang pembunuh.

"Motifnya diduga dendam. Tapi perlu ditelusuri lagi apakah pemicunya karena asmara, pekerjaan, keluarga atau lainnya. Ini akan terjawab dan terungkap setelah pelakunya ditangkap," kata Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Martinus Sitompul beberapa waktu lalu.

Satreskrim Polrestabes Bandung juga sudah meminta keterangan 10 orang saksi di antaranya pihak keluarga dan rekan kerja Sisca.

Lokasi tempat pembunuhan Sisca Yofie juga dikenal warga sebagai tempat yang seram dan rawan tindak kejahatan. Hal itu dibenarkan oleh salah seorang warga bernama Fernandes. Lokasi pembunuhan Sisca Yofie memang dikenal sebagai kawasan elit. Di tempat tersebut banyak berdiri kos-kosan karena berdekatan dengan kampus Maranatha. Hanya saja daerah tersebut memang sepi dan rawan kejahatan.

Daerah yang sepi itulah kemudian memunculkan dugaan pelaku memang mengenali betul detil lokasi pembunuhan Sisca Yofie. Bahkan,karena sepi dan gelap lokasi tersebut, CCTV yang diperoleh pihak kepolisian tidak begitu menjelaskan mengenai berapa nomor plat motor yang digunakan pelaku termasuk jenis kendaraannya.

Motif sementara pembunuhan sadis ini berlatar dendam. Benarkah pelaku itu eksekutor bayaran? Kabidhumas Polda Jabar Kombes Pol Martinus Sitompul menegaskan pihaknya enggan terburu-buru menyimpulkan siapa sebenarnya pelaku tanpa merujuk fakta dan bukti kuat. Tim khusus Polrestabes Bandung masih menyelidiki kasus yang menjadi sorotan masyarakat lantaran aksi sadis pelaku membantai wanita berparas cantik ini.

"Tentunya hal-hal berkaitan dengan kasus ini, kami tidak tinggal diam. Mengenai apakah ada aktor intelektualnya dan dugaan keterlibatan orang bayaran, kami akan mendalami penyelidikan," kata Martin kepada wartawan di Bandung, Jumat (9/8/2013).

Satreskrim Polrestabes Bandung sudah meminta keterangan 10 orang saksi di antaranya pihak keluarga dan rekan kerja Sisca. Polisi pun terus mengumpulkan bukti-bukti serta mengembangkan keterangan para saksi. Selain itu, pelacakan histori komunikasi wanita berparas cantik itu turut menjadi bagian investigasi.

Personel Ditreskrium Polda Jabar dan Cyber Crime Mabes Polri turut terlibat mengusut kasus pembunuhan yang menjadi sorotan publik ini. Menurut Martinus, Tim Cyber Crime Mabes Polri turun tangan untuk melacak tiga telepon genggam milik Sisca.

"Tim Cyber Crime datang ke Bandung. Mereka 'membedah' tiga handphone punya korban (Sisca). Tim ini akan mengurai jejak komunikasi korban seperti percakapan, SMS, dan MMS. Setelah itu tim menganalisisnya," tutur Martinus.

Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Sutarno sebelumnya menyebut tak menutup mata jika pelaku pembunuhan terhadap Sisca diduga orang yang mengenal serta dekat.

"Kemungkinannya memang orang yang sudah kenal. Enggak mungkin dendam kalau enggak kenal. Apakah itu hubungan lama, apakah keluarga, teman lama atau rekan kerja," ujar Sutarno. (tim) 
Diberdayakan oleh Blogger.