Dewan Pertanyakan Konversi Perkebunan Teh

Senin, 07 Oktober 2013 | 07.18

(SJO, BANDUNG) - Panitia khusus V DPRD Jawa Barat yang menyusun Rancangan Perda tentang Pedoman Penyelenggaraan Perkebunan mempertanyakan adanya konversi perkebunan teh ke kelapa sawit. Menurutnya, konversi tersebut, bila dilihat dari aspek sosial, ekonomi dan lingkungan, menjadikan masyarakat dirugikan.

Adanya pengalihan peruntukan dari perkebunan teh ke kelapa sawit,  dianggap berdapak langsung pada aspek sosial, karena hubungan yang harmonis antara Perhutani dengan masyarakat pemetik teh jadi berkurang. Dari aspek ekonomi, terdapat ratusan pemetik teh yang sudah bekerja turun temurun dari jaman pemerintah Belanda, akan berpotensi menjadi pengangguran. Sedangkan jika dilihat dari aspek lingkungan, bisa mengakhibatkan berkurangnya debit air.

“Terkait penyusunan Raperda Pedoman Penyelenggaraan Perkebunan, maka  Pansus V mengundang pihak PTPN VIII, Dinas Perkebunan Jabar, Akademisi dan Asosiasi Teh Indonesia untuk  mencari masukan,” ujar anggota Pansus V, Aep Sulaeman, S.Sos, M.Ap di gedung DPRD Jabar, Senin (7/10/2013).

Dikatakan, perlunya masukan dari pihak yang berkopeten diharapkan agar Raperda yang dihasilkan dapat dijadikan payung hukum dan solusi yang terbaik dalam mengatasan masalah perkebunan. Perkebunan teh yang dikonversi  menjadi perkebunan kelapa sawit sudah berlangsung sekitar 5 tahun silam, terletak di desa Panggong, desa Cicengkol kec. Sarang Panjang Kab Suban yang luasnya mencapai sekitar 200 hektar. Untuk itu, kedepan dengan adanya Perda diharapkan, tidak akan terjadi lagi.ujarnya.

Lebih lanjut anggota DPRD Jabar  dari FPAN  ini menjelaskan, akibat alih peruntukan tersebut, kini ada ratusan KK pemetik teh kehilangan mata pencarian dan penghasilan. Walaupun masyarakat sudah beberapa kali melakukan aksi demo penolakan, tapi pihak PTPN VIII tetap saja melakukan pembabatan pohon teh dan mengganti dengan tanaman kelapa sawit.

Ia juga mengungkapkan, bahwa berdasarkan tanggapan dari pihak PTPN VIII terkait adanya peralihan dari teh ke kelapa sawit, karena perkebunan teh di Kec.Sarang Panjang tersebut sudah berusia tua sehingga hasil tehnya sudah kurang maksimal. maka, akan dialihkan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Kendati demikian, Pihak PTPN VIII dianggap juga ada benarnya. Menurutnya, sebuah perusahaan tentu akan berpikir untuk propit orentit. “Namun, perusahaan juga tidak seenaknya mengganti peruntukan lahan, harus juga dipikirkan dampak sosial, Ekonomi, lingkungan,” ujar Aep Sulaeman yang mencaleg kembalidari Dapil IX Jabar  (Subang, Majalengka Dan Sumedang) ke DPRD Jabar. (w22)

AEKI akan Ekspor Kopi Langsung dari Jabar

Rabu, 02 Oktober 2013 | 18.31

(SJO, BANDUNG) - Bagian dari upaya untuk meningkatkan harga jual di pasar dalam negeri dan mancanegara, Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) berencana melakukan ekspor kopi langsung dari Jawa Barat ke sejumlah Negara di Asia Eropa dan Amerika. Demikian dikemukakan Ketua Umum AEKI, Irfan Anwar.

Menurut Irfan, dengan dilakukannya ekspor langsung dari Jabar akan memudahkan dan memotong rantai perdagangan di tingkat local yang saat ini terlalu berbelit-belit, sehingga membuat harga kopi di tingkat petani kurang menjanjikan.

“Dengan langsung di jual ke tingkat internasional harga kopi akan jauh lebih baik, selama ini ekspor biji kopi Jabar melalui Surabaya dan Medan sebelum ke negara tujuan,” ucap Irfan, kepada wartawan disela-sela Rapat Pembentukan DPD AEKI Jabar di Grand Royal Panghegar, Selasa (01/10).

Irfan mengharapkan, dengan ekspor kopi langsung dari Jabar , bisa meningkatkan harga jual biji kopi di tingkat petani, yang saat ini harga untuk biji kopi kualitas ekspor berada pada kisaran Rp25.000 hinggas Rp 30.000 per kilogramnya.

“Dengan ekspor langsung, harga kopi dari Jabar bisa mencapai Rp 40.000 per kilogramnya, dan ini sangat menjanjikan dan membantu para petani untuk tetap bertahan  menanam kopi,” kata Irfan.

Masih Rendah

AEKI mencatat, produktifitas biji kopi dari Jawa Barat saat ini masih sangat rendah dibanding provinsi lain di Indonesia.

“Saat ini hasil produksi kopi Jabar sekitar 1.000-3.000 ton per tahun atau setiap hektarenya hanya mampu memproduksi 2,3 ton per tahun atau sama dengan produksi sehari di Lampung,” ujar Irfan.

Menurut Irfan, kondisi ini sangat terbalik dengan luas lahan tanaman kopi yang tersebar di sejumlah kota/ kabupaten di Jabar yang mencapai sekitar 8.700 hektare. “Dari tanaman kopi sebesar itu sekitar  90% nya merupakan milik Perhutani,” katanya.

Irfan mengatakan, melihat potensi cukup besar yang dimiliki Jabar, tidak menutup kemungkinan biji kopi dari Jabar bisa lebih tinggi dari yang dihasilkan sekarang ini.

“Dengan luas tanaman yang tersebar di 14 kota/ kabupaten dan iklim  yang memadai, Jabar sangat cocok sebagai tempat budidaya kopi. Dan ini tentunya suatu potensi yang cukup besar," katanya.

Irfan menyatakan, selain luas tanam kopi dan iklim yang memadai, untuk meningkatkan produksi biji kopi dari Jabar, pihaknya juga berencana memberikan program penyuluhan kepada para petani agar hasil panen lebih melimpah.

“Sebenarnya kualitas kopi Indonesia lebih baik ketimbang negara Brazil, namun karena produktifitasnya besar mereka bisa ekspor ke negara lain dengan jumlah besar, padahal lahannya hanya 300 ribu hectare,” ucapnya. (r22)

Peluncuran Benih Bunga Begonia Perkaya Industri Florikultura

Jumat, 27 September 2013 | 22.26

(SJO, LEMBANG)- Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo) memberikan apresiasi terhadap diluncurkannya benih bunga Begonia dengan berbagai varietas oleh PT East West Seed Indonesia (Ewindo). Demikian dikemukakan Ketua Umum Asbindo, Glenn Pardede, usai menghadiri peluncurkan benih ungul bunga Begonia varietas Bali F1, di salah satu sentra produksi bunga Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (26/09).

Menurut Glenn, dengan di luncurkannya varietas baru bunga Begonia ini akan menambah keragaman produk bunga di industry florikultura di Indonesia saat ini, mengingat masih terbatasnya ketersediaan benih unggul untuk bunga.

“Peluncuran benih unggul ini diharapkan akan memberikan nilai lebih bagi petani untuk terus mengembangkan industry florikultura Indonesia yang potensi pasarnya masih sangat besar,” ujarnya.
Berdasarkan data Direktorat Jendral Hortikultura, Departemen Pertanian mencatat nilai perdagangan florikultura di Indonesia masih sangat kecil, yaitu baru mencapai 9-13 USD per tahun, dari  nilai perdagngan dunia yang mencapai 80 miliar USD atau tumbuh 6-9 persen.

Glenn mengatakan, masih rendahknya nilai perdagangan florikultura di Indonesia karena berbagai hal, diantaranya kurangnya promosi, masih rendahnya kebutuhan masyarakat akan bunga, dimana bunga belum menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi.

“Masyarakat masih menilai bunga merupakan kebutuhan primer, mereka akan membeli bunga jika semua kebutuhan kesehariannya terpenuhi,” ucapnya.

Padahal menurut Glenn, potensi pasar industry florikultura di Indonesia saat ini 60 hingga 70 persen dengan nilai mencapai Rp 2 triliun. (r22)

Pemprov Jabar Siapkan Lahan Tani Kedelai

Minggu, 01 September 2013 | 04.10

(SJO, TASIKMALAYA) - Gubernur Provinsi Jawa Barat Ahmad Heryawan menyatakan, pihaknya tengah menyiapkan lahan pertanian kedelai di beberapa kabupaten se-Jabar. Hal ini menyusul tingginya harga bahan baku tahu tempe di pasaran, karena mengikuti standar harga dollar.

"Kedelai mahal kan gara-gara impor dari luar negeri. Coba kalau ada pertaniannya pasti bisa murah. Maka sekarang kita sedang menyiapkan lahannya di beberapa kabupaten se-Jabar, soalnya kedelai cocok dengan kontur tanah di sini," terang Heryawan seusai berkunjung ke pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, Sabtu (31/8/2013).

Aher pun meminta seluruh Dinas Pertanian di kabupaten dan kota se-Jabar untuk menyosialisasikan potensi bertani kedelai. Terlebih saat ini harga kedelai hampir sama dengan harga beras per kilonya.

"Jadi petani nantinya bukan hanya mengandalkan hasil tani dari padi saja. Kedelai pun sekarang mahal harganya," tambah dia.

Namun, saat ditanya lokasi daerah mana saja yang akan disiapkan untuk lahan pertanian kedelai dan waktu realisasinya? Pria yang akrab disapa Aher ini belum bisa menjawabnya.

"Yang jelas lahannya akan di beberapa kabupaten, soalnya kalau di kota tidak mungkin. Belum, sekarang kita masih menyiapkan lahannya dulu," kata Aher. (W22)

Produksi Kedelai Jabar Masih Sangat Kecil

Selasa, 27 Agustus 2013 | 01.30

(SJO, BANDUNG) -  Produksi kedelai di Jawa Barat masih belum dapat memenuhi kebutuhan akibat petani enggan menanam komoditas tersebut. Kepala Bidang Produksi Pangan Dinas Pertanian Pangan (Disperta) Prov.Jabar, Uneef Primadi mengatakan realisasi produksi kedelai hingga Juni 2013 sebanyak 26.215 ton biji kering. Pencapaian tersebut masih sangat kecil dibandingkan target produksi kedelai tahun ini yang mencapai 97.448 ton biji kering.

"Realisasi produksi kedelai di Jabar, baru sekitar 27% dari target produksi tahun ini," ujarnya.

Meski produksi masih minim, namun luas tanam kedelai di Jabar hingga pertengahan tahun ini telah mencapai 21.924 hektare (Ha). Realisasi tersebut telah mencapai 85% dari target luas tanam tahun ini yang
mencapai 25.749 Ha.

Selain itu, produktivitas kedelai di Jabar juga cukup baik sekitar 15,78 kuintal/Ha. Capaian tersebut akan terus digenjot melalui penerapan bibit unggul kedelai.

"Kami berharap produktivitas bisa terus ditingkatkan hingga 16,43 kuintal/Ha," katanya.

Menurutnya, produksi kedelai yang minim itu terjadi karena petani lebih memilih menanam padi. Musim hujan yang panjang pada tahun ini membuat mayoritas petani memilih menanam padi.

Tak hanya itu, lanjut Eneef, petani juga masih kurang tertarik menanam kedelai karena harga jualnya masih lebih rendah dibandingkan tanaman pangan lainnya seperti padi dan jagung. Akibatnya, kedelai kalah
prioritas dari kedua komoditi pangan tersebut.

Melihat kondisi tersebut, dia berharap pemerintah pusat segera menerapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk kedelai seperti padi dan jagung. Pemerintah sendiri sebenarnya telah menerbitkan harga jual
pemerintah (HJP) untuk kedelai sebesar Rp7.450/kg dan harga beli petani (HBP) untuk kedelai sebesar Rp 7.000/kg. Aturan itu diterbitkan pada 13 Juni lalu. (r22)

Pemprov Jabar akan Bangun Sentra Budidaya Bawang Merah

Senin, 06 Mei 2013 | 11.31

(SJO, CIREBON) - Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) berencana membuat penangkaran bibit bawang merah. Hal itu dimaksudkan agar petani lokal tak perlu lagi bergantung pada bibit bawang merah yang berasal dari luar negeri. Demikian disampaikan Gubernur Ahmad Heryawan saat melakukan panen raya bawang merah di Desa Babakan Losari Kidul, Kecamatan Pabedilan, Kabupaten Cirebon.


Menurut Gubernur, penangkaran bibit bawang merah itu nantinya akan mencontoh penangkaran bibit kentang. Dia mengatakan, Provinsi Jawa Barat telah berhasil merintis penangkaran bibit  kentang di Pangalengan, Kabupaten Bandung. Bahkan, penangkaran tersebut menjadi yang terbaik di Indonesia.

Menurut Gubernur, ketiadaan penangkaran bibit bawang merah menyebabkan ketergantungan petani lokal terhadap bibit impor sangat tinggi. Akibatnya, saat harga bibit impor melonjak, petani menjadi kesulitan. Padahal, berbagai produk holtikultura seharusnya bisa menjadi raja di negeri sendiri. Pasalnya, Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat subur.

Aher menambahkan, tingginya harga bibit bawang merah selama ini menjadi salah satu faktor penghambat budidaya bawang merah petani. Akibat tingginya harga bibit, petani menjadi enggan menanam bawang merah. Karena itu, produksi bawang merah petani menjadi rendah sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar. (R22)

Dompet Dhuafa Luncurkan Gerakan Selamatkan Sawah Rakyat

Kamis, 21 Maret 2013 | 18.45

(SJO, BANDUNG) - Kondisi lahan persawahan sebagai sentra produksi beras di Indonesia kian berkurang. Lahan tersebut banyak yang beralih fungsi menjadi perumahan dan pabrik, di sisi lain beras sebagai bahan konsumsi utama masyarakat Indonesia belum tergantikan. Akibatnya Indonesia masih sering kekurangan stok beras, sehingga  harus impor.

Berkaitan dengan itu, Dompet Dhuafa  (DD) Jabar,  melaunching program "Gerakan Selamatkan Sawah Rakyat” di Bandung.

“Data dari Kementerian Pertanian dan BPS 2012 mengungkap fakta, 2008 - 2010 laju konversi lahan sawah di Pulau Jawa sebesar 600 ribu hektar atau secara rata-rata mencapai 200 ribu hektar per tahun, dan hanya mampu diimbangi oleh pemerintah dengan pencetakan 40 ribu hektar sawah baru setiap tahunnya. Artinya, setiap tahun ada seluas 160 ribu hektar sawah yang beralih fungsi,” ungkap Direktur DD Jabar, Hendi Suhendi saat launching program "Gerakan Selamatkan Sawah Rakyat” di Bandung, Selasa (19/03/2013).

Hendi melanjutkan, program tersebut merupakan gerakan masyarakat untuk penyelamatan sawah masyarakat dari alih fungsi lahan melalui proses pembelian sawah dan atau pencetakan sawah baru.Hal ini untuk menjaga dan meningkatkan produktivitas dengan pendekatan pemberdayaan ekonomi masyarakat.Sementara untuk penggarapnya adalah masyarakat sekitar dan hasilnya juga akan kembali kepada masyarakat.

Ia menambahkan,jika program sawah baru tidak segera terwujud maka akan berdampak pada semakin berkurangnya produksi beras yang berimbas pada ketahanan pangan nasoional.Jika terus dibiarkan maka tidak menutup kemungkinan terjadinya krisis pangan.

Sementara untuk teknisnya selain di garap oleh petani langsung nantinya setiap satu hektar sawah akan ada satu sarjana pertanian sebagai pendamping.Diharapkan kehadiran sarjana tersebut dapat memaksimalkan pengerjaan sawah yang berdampak pada meningkatnya jumlah hasil panen.

Pihaknya juga mengaku telah bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di Jabar untuk tenaga sarjananya.Selain mereka dapat mempraktekan ilmunya secara langsung mereka juga akan mendapat honorarium, bukan sekedar relawan saja.

“Program ini juga diharapkan selain menjaga ketahanan pangan nasional juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin khususnya petani dan buruh tani terutama di perdesaan serta mampu mengurangi angka pengangguran khususnya para sarjana pertanian,” jelasnya.

Untuk itu pihak akan menggalang dukungan dari berbagai pihak baik pemerintah maupun swasta dalam mensukseskan program tersebut.Sedangkan target jangka pendeknya minimal di Jabar dalam waktu satu tahun ke depan ada 100 ribu hektar sawah baru.Pihak DD Jabar sendiri telah mempunyai percontohan di daerah Subang Jabar.

“Gerakan 100 ribu ‘Selamatkan Sawah Rakyat’ merupakan ikhtiar selamatkan pangan Indonesia.”
100 ribu sendiri memiliki dua makna yakni makna target menyelamatkan 100 ribu hektare sawah, serta 100 ribu merupakan ajakan berdonasi 100 ribu sebagai wujud nyata kepedulian terhadap pangan indonesia,” pungkas Hendi. (hidayatullah)
Diberdayakan oleh Blogger.