Pembongkaran Kios di Stasiun UI Diwarnai Kericuhan

Rabu, 29 Mei 2013 | 23.05

(SEPUTAR JABAR ONLINE, DEPOK) - Ratusan pedagang kaki lima di Stasiun UI Depok, Jawa Barat, Rabu (29/5), ditertibkan. Para pedagang dan mahasiswa melakukan perlawanan. Meski sempat diwarnai kericuhan, aparat berhasil membongkar puluhan kios.

Sebanyak 81 kios ditertibkan petugas dar PT KAI, Satpol PP dan TNI-Polri sejak pukul 07.00 Wib. Mayoritas kios-kios tersebut telah ditinggalkan pemiliknya.

Petugas mendapat perlawanan dari mahasiswa yang mendukung para pedagang. Sejumlah pedagang juga menyatakan kekecewaannya dan seharusnya proses penertiban melalui dialog terlebih dahulu untuk membahas kemana mereka akan direlokasi sementara.

Humas PT KAI Daops I Jabodetabek, Sukendar, mengatakan penertiban ini adalah bagian dari proses revitalisasi stasiun KA di Jabodetabek. Pembaharuan harus dibarengi juga dengan pembersihan.

Selama proses penertiban semua kereta tidak akan berhenti di Stasiun UI sampai ada pemberitahuan dari pihak PT KAI. (mtv)

Depok Akhirnya Miliki PDAM

Rabu, 30 Januari 2013 | 16.47

(SEPUTAR JABAR COM, CIANJUR) Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail melantik jajaran pengurus Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) 2013-2017. Mereka yakni Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Depok Etty Suryahati diangkat dan dilantik sebagai Ketua Dewan Pengawas PDAM. Serta Kepala UPT Air Bersih Kota Depok M Kholik diangkat dan dilantik sebagai pimpinan direksi PDAM.

"Ini amanah dari perda percepatan proses pemisahan PDAM dari PDAM Kahuripan Bogor, menjadi Kahuripan dan Depok, ini bukan mendadak atau perhelatan politik, tetapi pemahaman dan kebutuhan masyarakat terkait pelayanan PDAM," ujar Nur Mahmudi dalam sambutannya, Rabu (30/01).

Melalui pendekatan kajian, analisa ekonomi, dan kemasyarakatan, akhirnya disusun Perda untuk mempercepat pemisahan PDAM ini, dilakukan dengan berbagai tahapan.

"Beberapa tahapan kepada kami, telah kami lakukan berbagai mekanisme, untuk menyelesaikan beberapa tugas, tahapan terkahir yakni membentuk panitia seleksi oleh tim independen UI," ungkapnya.

Pelayanan PDAM, kata Nur Mahmudi, menjadi indikator, baik tidaknya managemen pemerintahan. Agar akses 45 ribu pelanggan warga Depok untuk mendapatkan air minum yang layak semakin mudah.

"Depok agak unik memang, wilayahnya permukaan air tanahnya masih bagus, membuat orang Depok tidak pakai PDAM, karena kadang bau kaporit. Karena itu, maka kota Depok warganya bervariasi, diawali dari tanah sumur, lalu dulu dari sungai langsung, lalu dari PDAM," paparnya.

Namun, lanjut Nur Mahmudi, jika wilayah di Depok memiliki kualitas air bawah tanahnya mengandung logam, maka warga lebih senang mengambil air PDAM. Selain itu, kata dia, agar kualitas air bawah tanah tak terlalu banyak pemakaian dan tak merusak lingkungan.

"Ada amanah publik dan amanah komersial, tetap didasarkan pada kelayakan biaya operasional, demi kepentingan pelayanan komersial diharapkan dapat juga, selain pelayanan, akan berikan kontribusi bagi PAD," ungkapnya. (red5)
Diberdayakan oleh Blogger.